Sabtu, 23 November 2013

Semangat dalam Keterbatasan

SEMANGAT DALAM KETERBATASAN
Oleh Ardiansyah

Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmatnya sehingga aku dapat berbagi kisah dengan pembaca melalui tulisan ini. Ini adalah murni kisah yang benar-benar terjadi dan kualami. Meski sebagian besar peristiwa sudah tampak kabur dari ingatanku, namun sedikit banyak telah dapat kugali kembali hingga akhirnya dapat menjadi sebuah tulisan yang tak seberapa ini. Kali ini aku hanya akan sedikit berbagi sepenggal kisah perjalanan hidupku yang penuh dengan suka dan duka sebagai seorang tunanetra. Terlalu panjang sebenarnya untuk dikisahkan, dan jujur saja, mungkin kurang begitu menarik untuk dibagikan. Namun tak mengapalah, meski singkat dan kurang menarik, dengan penuh kerendahan hati kucoba tuliskan kisah ini semoga dapat memberi manfaat bagi pembaca.
Yogyakarta Minggu 28 Juli 2013

Namaku Ardiansyah. Dan aku adalah seorang penyandang tunanetra. Statusku saat ini adalah sebagai seorang mahasiswa disebuah universitas negri di Yogyakarta. Mungkin pembaca bertanya-tanya dalam hati, “bagaimana seorang tunanetra dapat menjadi mahasiswa”. Inilah yang akan aku kisahkan, perjuangan hidupku sebagai seorang tunanetra yang selalu diremehkan, dihina, dipandang sebelah mata oleh teman-teman semasa kecil, kini telah dapat meraih sebagian cita-citanya untuk terus bersekolah dan belajar hingga perguruan tinggi sekarang ini. Namun sepenggal kisah ini belum apa-apa, karena masih akan terus berlanjut hingga nanti entah kapan, mungkin hingga akhir hayatku. Sebab masih banyak impian, harapan dan cita-cita yang ingin aku wujudkan dalam hidupku. Baiklah para pembaca yang budiman, inilah sepenggal kisahku.
Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat sederhana. Pekerjaan ayahku hanyalah sebagai sopir bus, sedangkan ibuku hanyalah sebagai ibu rumahtangga biasa. Aku terlahir normal yaitu belum menyandang tunanetra. Ayah dan ibu sangat bangga pada waktu itu dengan kelahiranku, seorang anak laki-laki yang diharapkan kelak dapat menjadi kebanggaan keluarga. Aku sedikit ingat ketika ibu menimangku entah kapan itu, yang jelas aku belum tunanetra, bahwa aku harus jadi anak pinter, sukses, dan dapat menjadi kebanggaan keluarga. Dan aku ingat pula ketika ayahku suatu saat pernah berujar kepada ibuku, bahwa meski hidup kami pas-pasan, namun beliau akan berusaha menyekolahkanku dengan segala daya dan upaya agar kelak dapat menjadi orang yang berhasil. Hal ini wajar, kerena aku adalah anak pertama dalam keluarga kami. Namun apa hendak dikata, siapalah yang dapat menolak takdir Allah. Siapalah yang dapat mennentang kehendak-Nya, jika Allah telah berkehendak maka pasti segala daya dan upaya siapapun selain karena kehendak_Nya tidak akan berarti apapun. Kala itu usiaku telah menginjak enam tahun. Dan diusia itulah Allah mulai mengujiku dengan ujian yang sangat berat, yaitu dengan diambilnya dua hal yang sangat kucintai, bahkan sangat dicintai oleh siapapun di dunia ini. Bahkan siapapun tidak akan rela untuk menukarnya dengan apapun demi dua benda ini, yaitu mata. Meskipun ujian Allah itu bermula saat aku masih kecil, namun tak pernah sedikitpun lekang dari ingatanku.
Kala itu kakak sepupuku adalah teman bermain semasa kecilku. Dia lebih tua dua tahun dariku. Maka sudah pasti dialah yang selalu mengawasiku dan membimbingku saat kami bermain. Dia adalah anak pamanku yang merupakan kakak dari ibuku. Setiap hari kita memang selalu bermain bersama karena memang pada waktu itu kita tinggal serumah. Keluargaku dan keluarga pamanku memang masih tinggal serumah yaitu di rumah nenekku. Sebab waktu itu memang ayahku belum mempunyai rumah sendiri. Saat itu aku meminta pada kakakku untuk mengajariku naik sepeda. Karena kami belum mempunyai sepeda sendiri, setiap berlatih kami selalu menggunakan sepeda kawan kakakku yang sudah rusak. Pengayuhnya sudah hilang, serta stangnya sudah sedikit bengkok. Bahkan standartny pun sudah tidak ada. Di suatu pagi, seperti biasa aku dengan kakak sepupuku berencana akan berlatih sepeda. Dan tak lama kemudian kakakku pun pergi ke rumah temannya untuk meminjam sepeda. Karena lama menunggu, aku pun lupa dengan rencanaku semula untuk belajar naik sepeda dengan kakakku. Akhirnya pun aku mulai bermain sendiri. Namanya anak kecil, aku gemar sekali bermain sambil berloncat-loncat, berlari-lari bahkan panjat memanjat. Ketika itu, ketika aku sedang berlari, dan tidak memperhatikan arah lariku, tanpa sengaja kakiku terantuk sesuatu dan akupun jatuh tertelungkup dan “Cles!” Sebatang besi tajam menghujam mata kananku. Ternyata, ketika aku sedang asik bermain tadi, kakakku telah menaruh sepeda dengan posisi rebah, karena memang sepeda tersebut sudah tidak ada standartnya. Ternyata sebatang besi tajam tersebut adalah merupakan besi yang mencuat ditempat dimana seharusnya pengayuh sepeda berada. Akupun menjerit! Meraung! Menangis sejadi-jadinya dan akhirnya tak sadarkan diri. Orang serumah gempar karena pristiwa itu, dan ibuku pun mengangis dan meraung-raung dan akhirnya juga jatuh tak sadarkan diri. Dan akupun segera dilarikan kerumasakit untuk menjalani oprasi. Sejak hari itu aku telah memulai kehidupanku sebagai seorang tunanetra. Pada mulanya mata kiriku masih normal, namun karena takdir Allah entah kenapa lambat laun bahkan tanpa kusadari Allah pun mengambil pula mata kiriku. Aku tak tau apa sebabnya, kenapa setelah mata kananku buta, pada akhirnya juga menjalar kemata kiriku. Inilah yang dinamakan takdir.
Kini hari demi hari pun harus kulalui, menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Meski usiaku masih kecil waktu itu, namun aku mulai dapat merasakan betapa sulitnya menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Dulu yang semula aku dapat bermain bersama teman-temanku, lambat laun pun kini satu demi satu teman-temanku mulai menjauhiku dan jarang lagi yang mau bermain denganku. Hal ini karena aku sudah tidak dapat bermain sebagaimana dulu lagi saat aku masih melihat. Seperti bermain kartu, bermain lompat tali, bermain petak umpet dan lain sebagainya. Yang ada kini hanyalah ledekan-ledekan dari teman-temanku. Betapa sedih hatiku setiap teman-teman meledekku sebagai bocah buta. Waktu itu setiap teman-teman meledekku, aku hanya bisa menangis dan mengadu pada ibu. Saat itu ibu hanya berkata “biarkan saja nak... Kamu lebih baik darinya....” dengan penuh perasaan. Setiap teman-temanku meledekku dan aku menangis, selalu saja kata itu yang diucapkan ibuku. Dahulu aku belum dapat merasakan makna dari perkataan ibuku tersebut, namun sekarang setelah dewasa aku mulai dapat mencerna bahwa ucapan ibuku itu merupakan ungkapan tulus seorang ibu tentang keadaan anaknya yang kurang beruntung sebagaimana anak umumnya. Bukan ungkapan penyesalan, melainkan merupakan ungkapan rasa haru dan pernyataan kasih yang tak terkira. Aku yakin, waktu itu terbersit dalam hati ibuku untuk terus merawatku dan menjadikan aku sebagai orang sukses meski tunanetra. Hal ini kuketahui dari kasih sayang ibuku sehari-hari padaku. Ibuku tidak pernah sekalipun mengeluh dengan keadaanku, tak pernah merasa malu mempunyai anak cacat sepertiku, justru selalu menguatkanku dengan nasehat-nasehatnya agar aku selalu optimis dan bersabar dengan keadaanku. Hanya ibulah yang selalu membimbingku melalui hari-hari yang belum terbiasa bagiku, hari-hari yang sulit dalam hidup sebagai seorang tunanetra. Sebab Saat itu ayah sudah mulai jarang di rumah, karena harus bekerja keras mencari nafkah seiring bertambahnya beban yang harus ditanggung ayah dengan lahirnya adik laki-lakiku.
Ternyata ujian Allah yang menimpa keluarga kami tidak hanya itu saja. Selang dua tahun setelah aku menjalani hidup sebagai seorang tunanetra, kembali ujian itu datang mendera hidupku dan keluargaku. Ayah yang sangat kukasihi, ayah yang selalu optimis dengan keadaanku yang tunanetra, ayah yang selalu tak pernah patah semangat untuk mencarikanku obat demi kesembuhanku, dan ayah yang merupakan tulang punggung keluarga, kini harus dipanggil ke hadirat Allah melalui sebuah kecelakaan tragis yang menimpa ayahku saat menunaikan tugasnya sebagai seorang supir bus. Selain ayahku ada pula beberapa orang penumpang yang turut meninggal dan luka-luka berat dalam peristiwa itu. Kini tinggalah ibu yang merupakan satu-satunya pengayomku. Padahal ibu baru saja melahirkan adik laki-lakiku,dan akupun jelas masih belum mandiri meski usiaku sudah menginjak delapan tahun. Hal itu wajar, karena aku belum dapat mengatasi traumaku. Kini tinggal ibulah yang harus berkerja keras untuk menyambung hidup kami dan serta merawatku menggantikan ayah. Meski aku masih kecil, aku pun juga telah dapat ikut merasakan betapa pahitnya hidup yang harus kami jalani.
Masih jelas dalam ingatanku waktu itu, aku selalu merasa iri jika aku mengetahui teman-temanku dapat bersekolah. Aku ingin sekali bersekolah sebagaimana teman-temanku. “ah namun apakah mungkin”, pikirku. Ibu semakin bersedih, jika aku mengeluhkan hal itu padanya. Bahkan tak jarang ibupun sering menangis, jika mengingat keadaan serta keinginanku tersebut. Pernah suatu ketika, dengan memberanikan diri, ibu mendaftarkanku ke sebuah sekolah dasar di kampungku. Hal itu karena ibu merasa iba jika setiap saat mendengar ratapanku yang begitu ingin sekali dapat bersekolah. Namun, yang hingga sekarang membuat perih hatiku, yang membuatku sakit hati jika mengingatnya, bukan hanya sekolah itu tidak menerimaku, melainkan mengataiku sebagai anak yang tak mungkin bersekolah karena kekuranganku. Padahal, ibuku hanya ingin menitipkan saja untuk sementara waktu hingga kami mendapatkan informasi dimana sekolah yang tepat buatku. Terlebih parah lagi, mereka selain tidak dapat menerimaku karena kekuranganku, juga merasa direpotkan jika aku berada di sekolah itu. Membuat malu sekolah, karena telah menerima anak cacat sehingga takut jika masyarakat akan memandang sebagai sekolah yang kurang murit dan kurang berkualitas hingga sampai murit cacatpun diteerima. Hal itu membuat ibuku semakin bersedih, apalagi bukankah menyekolahkanku di SLB yang hanya ada di kota akan perlu biaya mahal? Hal itulah yang pada akhirnya melatar belakangi ibuku terpaksa pergi mengadu nasip ke Jakarta menjadi penjual sayur kliling. Siapa tau akan dapat membiayaiku bersekolah di SLB di kota dan mencukupi kebutuhan adikku yang masih kecil. Dan berangkatlah ibu ke Jakarta untuk mengadu nasib, Sedangkan aku dan adikku tinggal bersama nenek dan paman di kampung.
Ujar-ujar kuno menyatakan, bahwa kehidupan manusia itu seperti roda, terkadang di bawah, dan terkadang pula di atas. Terkadang kita diuji dengan kesulitan hidup, terkadang pula kita pun juga pasti akan diuji dengan kelapangan dan kebahagiaan hidup. Tidak ada kesedihan yang tanpa diiringi kebahagiaan, dan tak ada kebahagiaan yang tanpa diiringi kesedihan. Selang beberapa bulan kemudian, agaknya keberuntungan demi keberuntungan mulai menghampiriku dan keluargaku. Pertama-tama, ibu yang baru empat bulan di Jakarta, diminta pulang oleh adik nenekku atau aku biasa memanggilnya mbah Lik untuk pulang dan mengelola warung makan milik mbah Lik. Hal itu karena memang mbah Lik sudah tua, dan kebetulan beliau juga tidak mempunyai anak yang memarisi usahanya. Dengan demikian, perekonomian keluargaku pun lambat laun Alhamdulillah mulai membaik. Meski ibu selain harus mengelola warung makan mbah Lik juga harus merawat Mbah Lik suami istri yang sudah jompo, namun paling tidak kami sudah dapat hidup dengan lebih baik dari pada sebelumnya. Sedangkan hal berikutnya yang aku anggap sebagai keberuntungan dalam hidupku adalah pada akhirnya akupun dapat bersekolah. Hal yang selama ini kuimpikan, hal yang siang dan malam kuidam-idamkan, akhirnya terwujud. Tak lama setelah kepindahan kami ke Semarang, datanglah sodara mudah ayahku yang konon kata ibuku orang yang cukup kaya di keluarga ayahku. Kedatangan adik ayahku tersebut adalah menawarkan diri bahwa beliau samggup untuk membiayai sekolahku. Tentu saja hal itu sangat menggembirakanku terlebih-lebih ibu. Kalau boleh dikata, hari itu adalah pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira selama aku menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Dan aku yakin, ibuku pun juga demikian. Akupun pada akhirnya dapat bersekolah di Solo, yaitu di sebuah SLB yang khusus bagi anak-anak tunanetra.***
Duabelas tahun tak terasa telah berlalu. Tak terasa pula kini aku sudah lulus SMA. Banyak hal yang telah aku dapatkan selama duabelas tahun bersekolah. disamping ilmu tentunya, melainkan juga pengalaman. Apalagi selama duabelas tahun itu pula aku hidup di asrama sehingga kemandirianku sudah tidak diragukan lagi. Dan Alhamdulillah pula, kini usaha ibuku pun juga sudah lumayan lancar. Meski ibu merupakan tulangpunggung keluarga, namun Alhamdulillah hidup kami pun terbilang cukup. Dan kini, setelah usaha ibuku sudah mulai maju, aku sudah tidak lagi dibiayai sekolah oleh adik ayahku. Bahkan tak jarang pula aku mendapat biasiswa karena beberapa prestasiku yang tak seberapa.

Meskipun aku hidup sebagai seorang tunanetra, namun aku tak ingin menjadi orang yang rendah diri, pesimis, salalu terpuruk, dan terbenam dalam api keputusasaan. Kutepiskan segala rasa keluh-kesah, minder, rendah diri, putus asa jauh-jauh dari hidupku. Sebab aku percaya, bahwa Kekurangan bukan merupakan hambatan untuk meraih kesuksesan, kekurangan bukan merupakan rintangan untuk meraih masa depan yang gemilang. Justru keputusasaan adalah pangkal dari kegagalan untuk meraih apa yang kita inginkan. Banyak sekali orang-orang yang memiliki kekurangan telah menjadi orang sukses. Hellen keler dan herotada Ototake misalnyaa, Hanya berbekal tekat dan semangat, mereka dapat meraih apa yang mereka cita-citakan dalam hidup. Tidak ada yang mustahil di dunia ini asal kita mau berusaha untuk mewujudkannya. Orang-orang seperti mereka itulah yang selalu menjadi motivasiku selama ini untuk berjuang, belajar dan berjuang melawan nasib hingga saat ini bahkan sampai nanti.

Terkadang aku masih merasa sedih jika mengetahui bahwa masih banyak teman-teman tunanetra yang belum mau bangkit dari keterpurukan hidup. Masih banyak diantara mereka yang belum dapat menerima keadaan, belum dapat menerima dengan lapang dada takdir Allah. Banyak diantara mereka yang tidak mau berjuang melawan keputus asaan, melawan nasib untuk bangkit meraih cita-cita. Banyak diantara mereka yang hanya hidup sebagai peminta-minta, berdiam diri di rumah menjadi beban keluarga dan bahkan masyarakat. Hendaknya, kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi ujian hidup, dalam menerima takdir Allah. Dengan demikian,peran guru, pembimbing sekaligus motivator yang tau dunia mereka,yang senasip dengan mereka, dan yang pernah mengalami apa yang mereka alami sangat penting. Karena merekalah yang faham tentang kareter mereka lebih mendalam, dan mereka jugalah yang paling faham secara mendalam tentang emosi mereka. Hal itulah yang melatar belakangi aku bercita-cita untuk berkuliah agar aku dapat menjadi guru dan motifator bagi mereka nantinya. Selain itu, aku ingin menunjukan kepada dunia dan masyarakat bahwa tidak selamanya kaum disabilitas itu lemah, tidak selamanya orang berkekurangan itu menjadi beban keluarga, masyarakat bahkan negara. justru sebaliknya, bahwa kaum disabilitas itu dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, mandiri, bermanfaat bagi orang lain, dan hidup layak sebagaimana orang normal pada umumnya. Maka dari itu, berkuliah di jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa) adalah kurasa yang paling tepat untuk menjembataniku mencapai impianku tersebut. Dan rasa syukur pun tak henti-hentinya aku panjatkan kepada Allah SWT karena pada akhirnya,aku meskipun berkekurangan seperti ini ternyata dapat juga berkuliah di kampus idaman, di kampus impian setiap pemuda, Universitas Negri Yogyakarta (UNY) dan diterima dijurusan PLB.

Demikian seklumit kisah hidupku, semoga dapat menjadi bahan renungan dan sumber inspirasi bagi yang membacanya.

Silahkan kenal Ardiansyah lebih lanjut Klik disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mengunjungi blog saya.
Tolong tinggalkan komentar, dan mari belajar bersama.