Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran ini mengubah peran guru yang awalnya hanya berpusat pada guru sebagai sumber pengetahuan atau sumber belajar, selanjutnya dengan model pembelajaran kooperatif ini peran guru berubah yaitu dengan model pembelajaran kooperatif yang mengarah ke pengelolaan siswa dalam kelompok-kelompok kecil.
Pembelajaran kooperatif ini didasarkan pada gagasan atau pemikiran bahwa siswa bekerja bersama-sama dalam belajar, dan bertanggung jawab terhadap aktivitas belajar kelompok mereka seperti terhadap diri mereka sendiri.
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif yitu:
1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Hal ini Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
2. Menyampaikan informasi.
Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
5. Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6. Memberikan penghargaan.
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok.
Demikian sedikit uraian mengenai model pembelajaran kooperatif yang dapat saya bagikan.
SELAMAT DATANG DI SEMANGAT-DALAM-KETERBATASAN.BLOGSPOT.COM BLOG ini adalah tempat YANG MENYEDIAKAN BERBAGAI MACAM KEBUTUHAN diantaranya: Artikel motivasi, Renungan harian, Artikel tentang Komputer bicara dan Handphone bicara. Selain itu juga terdapat artikel-artikel lainnya seperti informasi pendidikan baik inklusi maupun umum dan info menarik lainnya.
Kamis, 28 November 2013
Selasa, 26 November 2013
multiple intelegensi
Setiap orang pada dasarnya mempunyai multiple intelegensi yang dibawa sejak lahir, namun hal tersebut biasanya tidak nampak di dalam kehidupan seseorang tersebut. Padahal jika multiple intelegensi tersebut digali dengan baik maka akan berkembang dan kelihatan di dalam seseorang tersebut.
Para ahli menemukan 150 jenis kecerdasan manusia. Cukup lama orang beranggapan bahwa IQ ( intelligence quotient ) merupakan penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang. Seperti anggapan bahwa IQ-nya tinggi maka ia akan sukses dalam kehidupan nyata. Namun pernyataan itu tidak selalu benar. Banyak orang IQ – nya tinggi tetapi gagal dalam hidup. Maka disadari bahwa IQ meskipun tinggi namun bukan segala–galanya.
Perlu disadari pula dengan penemuan SQ ( spiritual quotient) dan EQ ( emotional quotient ) maka IQ, EQ, dan SQ perlu dikembangkan secara bersamaan, agar seseorang berhasil. Prof. Dr.Howard Gardner seorang quotient) dan EQ ( emotional quotient ) maka IQ, EQ, dan SQ perlu dikembangkan secara bersamaan, agar seseorang berhasil.
Prof. Dr.Howard Gardner seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS merumuskan teorinya Multiple Intelligences ( kecerdasan ganda / majemuk ).
Dengan demikian, Prof. Dr.Howard Gardner mengemukakan 9 kecerdasan yaitu:
1. Inteligensi linguistik ( Linguistic intelligence). Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral/lisan maupun secara tertulis.
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa secaa umum. Orang yang memiliki intelegensi linguistik tinggi akan berbahasa dengan lancar, baik, dan lengkap.
2. Inteligensi matematis-logis ( Logical – mthematical intelligence ).
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Orang yang memiliki intelegensi matematis-logis sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka bekerja. Dalam menghadapi banyak persoalan, dia akan mencoba mengelopokkannya sehingga mudah dilihat mana yang pokok dan yang tidak, mana yang berkaitan antara satu dan lainnya, serta mana yang merupakan persoalan lepas. Maka dia tidak mudah bingung. Pemikiran orang dengan intelegensi matematis-logis adalah induktifdan dedukti, jalan pikiran bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat.
3. Inteligensi ruang-visual (Spatial intelligence ).
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat. Meski melihat dari jauh, ia dapat memperkirakan letak benda itu. Orang yang memiliki intelegensi ruang-visual tinggi punya persepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang disekitarnya, ia dapat memandang dari berbagai sudut. Maka, ia dapat menggambarkan kedudukan ruang dengan baik.
4. Inteligensi kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence ).
Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Orang yang memiliki intelegensi kinestik-badani dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan mudah diekspresikan dengan gerak tubuh, dengan tarian dan ekspresi tubuh. Mereka juga dengan mudah dapat memainkan mimik, drama, dan peran. Mereka dengan mudah dan cepat melakukan gerak tubuh dalam olahraga dengan segala macam variasinya. Yang sangat menonjol dalam diri mereka adalah koordinasi dan fleksibilitas tubuh yang begitu besar.
5. Inteligensi musikal ( Musical intelligence ).
Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik, kemampuan menyanyi, kemampuan menciptakan lagu, kemampuan untuk menikmati lagu, musik dan nyanyian.
6. Inteligensi interpersonal ( Interpersonal intelligence ).
Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan , intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, isyarat dari orang lain juga termasuk dalam intelegensi inti. Secara umum intelegensi interpersonal berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. Orang yang kuat dalam intelegensi interpersonalnya biasanya sangat mudah bekerja sama dengan orang lain, dan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Hubungan dengan orang lain bagi mereka menyenangkan dan sepertinya keluar begitu saja secara otomatis.1. 7. Inteligensi intrapersonal ( Intrapersonal intelligence )
8. Inteligensi lingkungan / naturalis ( Naturalist intlligence )
Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik. Orang yang punya intelegensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup diluar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan klasifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan.
9. Inteligensi eksistensial ( Exixtential intlligence )
Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia. Orang tidak puas hanya menerima keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam. Inte;egensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia.
Para ahli menemukan 150 jenis kecerdasan manusia. Cukup lama orang beranggapan bahwa IQ ( intelligence quotient ) merupakan penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang. Seperti anggapan bahwa IQ-nya tinggi maka ia akan sukses dalam kehidupan nyata. Namun pernyataan itu tidak selalu benar. Banyak orang IQ – nya tinggi tetapi gagal dalam hidup. Maka disadari bahwa IQ meskipun tinggi namun bukan segala–galanya.
Perlu disadari pula dengan penemuan SQ ( spiritual quotient) dan EQ ( emotional quotient ) maka IQ, EQ, dan SQ perlu dikembangkan secara bersamaan, agar seseorang berhasil. Prof. Dr.Howard Gardner seorang quotient) dan EQ ( emotional quotient ) maka IQ, EQ, dan SQ perlu dikembangkan secara bersamaan, agar seseorang berhasil.
Prof. Dr.Howard Gardner seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS merumuskan teorinya Multiple Intelligences ( kecerdasan ganda / majemuk ).
Dengan demikian, Prof. Dr.Howard Gardner mengemukakan 9 kecerdasan yaitu:
1. Inteligensi linguistik ( Linguistic intelligence). Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral/lisan maupun secara tertulis.
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa secaa umum. Orang yang memiliki intelegensi linguistik tinggi akan berbahasa dengan lancar, baik, dan lengkap.
2. Inteligensi matematis-logis ( Logical – mthematical intelligence ).
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Orang yang memiliki intelegensi matematis-logis sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka bekerja. Dalam menghadapi banyak persoalan, dia akan mencoba mengelopokkannya sehingga mudah dilihat mana yang pokok dan yang tidak, mana yang berkaitan antara satu dan lainnya, serta mana yang merupakan persoalan lepas. Maka dia tidak mudah bingung. Pemikiran orang dengan intelegensi matematis-logis adalah induktifdan dedukti, jalan pikiran bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat.
3. Inteligensi ruang-visual (Spatial intelligence ).
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat. Meski melihat dari jauh, ia dapat memperkirakan letak benda itu. Orang yang memiliki intelegensi ruang-visual tinggi punya persepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang disekitarnya, ia dapat memandang dari berbagai sudut. Maka, ia dapat menggambarkan kedudukan ruang dengan baik.
4. Inteligensi kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence ).
Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Orang yang memiliki intelegensi kinestik-badani dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan mudah diekspresikan dengan gerak tubuh, dengan tarian dan ekspresi tubuh. Mereka juga dengan mudah dapat memainkan mimik, drama, dan peran. Mereka dengan mudah dan cepat melakukan gerak tubuh dalam olahraga dengan segala macam variasinya. Yang sangat menonjol dalam diri mereka adalah koordinasi dan fleksibilitas tubuh yang begitu besar.
5. Inteligensi musikal ( Musical intelligence ).
Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik, kemampuan menyanyi, kemampuan menciptakan lagu, kemampuan untuk menikmati lagu, musik dan nyanyian.
6. Inteligensi interpersonal ( Interpersonal intelligence ).
Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan , intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, isyarat dari orang lain juga termasuk dalam intelegensi inti. Secara umum intelegensi interpersonal berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. Orang yang kuat dalam intelegensi interpersonalnya biasanya sangat mudah bekerja sama dengan orang lain, dan mudah berkomunikasi dengan orang lain. Hubungan dengan orang lain bagi mereka menyenangkan dan sepertinya keluar begitu saja secara otomatis.1. 7. Inteligensi intrapersonal ( Intrapersonal intelligence )
8. Inteligensi lingkungan / naturalis ( Naturalist intlligence )
Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik. Orang yang punya intelegensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup diluar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan klasifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan.
9. Inteligensi eksistensial ( Exixtential intlligence )
Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia. Orang tidak puas hanya menerima keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam. Inte;egensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia.
Sabtu, 23 November 2013
Inovasi Pendidikan
1. Inovasi
Secara etimologi inovasi berasal dari Kata Latin innovation yang berarti pembaharuan atau perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbaharui dan mengubah inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan).
Istilah perubahan dan pembaharuan ada pebedaan dan persamaanya. Perbedaannya , kalau pada pembaharuan ada unsur kesengajaan. Persamaannya. Yakni sama sama memilki unsur yang baru atau lain dari yang sebelumnya. Kata “Baru” dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Nemun, setiap yang baru itu belum tentu baik setiap situasi, kondisidantempat.
2. Inovasi Pendidikan
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil intervensi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan nasional.
Inovasi (pembaharuan) terkait dengan invention dan discovery. Invention adalah suatu penemuan sesuatu yang benar benar baru, artinya hasil kreasi manusia. Penemuan sesuatu (benda) itu sebelumnya belum pernah ada, kemudian diadakan dengan bentuk kreasi baru. Discovery adalah suatu penemuan (benda), yang benda itu sebenarnya telah ada sebelumnya, tetapi semua belum diketahui orang. Jadi, inovasi adalah usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) baik invention dan discovery.
3. Tujuan Inovasi Pendidikan
Menurut santoso (1974), tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi,relevansi, kualitas, dan efektivitas. Sarana serta jumlah peserta didik sebanyak banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunan), dengan jumlah yang sekecil kecilnya.
Tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1. Mengejar ketinggalan ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan kemajuan tersebut.
2. Mengembangkan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolahbagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Di samping itu, akan di usahakan peningkatan mutu yang dirasakan semakin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian sistem yang baru, dihaarpkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.
3. Masalah Masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi Pendidikan di Indonesia yaitu:
1. Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan bangsaIndonesia.
2. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang, dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
3. Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan dipihak lain kesempatan sangat terbatas.
4. Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Belum berkembangnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
6. Kurang ada relevansi antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.
7. Keterbatasan dana.
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini, telah banyak diperkenalkan inovasi inovasi pendidikan dan atau kurikulum yang diadopsi dari luar negeri maupun hasi pemikiran para ilmuan Indonesia sendiri. Semua inovasi tersebut diharapkan dapat memcahkan permasalahan pendidikan yang sedang dialami di Indonesia.
4. Berbagai upaya inovasi pendidikan
a. Inovasi Kurikulum
Menurut Fuad Ihsan (2005:194) menjelasakan
1. Proyek perintis sekolah pembangunan.(1974)
PPSP adalah salah satu proyek dalam rangka program pendidikan yang ditugaskan untuk mengembangkan satu sistem pendidikan dasar dan menengah.
2. Kurikulum 1975
Kurikulum ini menekankan pada efesiensi dan efentifitas pengunaan dan, daya dan waktu yang tersedia. Proyek Pamong, Pamong singkatan dari pendidikan anak oleh masyarakat, orang tua, dan guru. SMP terbuka (1984), Universitas Terbuka
3. Kurikulum 1984
Proses belajar dan mengajar adalah pendekatan keterampilan proses yang diujudkan dalam bentuk belajar siswa aktif (CBSA)
4. Kurikulum 1994
Perbedaan kurikulum 1994 dengan sebelumnya pada pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, memerlakukan muatan local, penyempurnaan 3 kemampuan dasar menulis, membeca, dan menghitung
5. Kurikulum 2006 KTSP
Secara etimologi inovasi berasal dari Kata Latin innovation yang berarti pembaharuan atau perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbaharui dan mengubah inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan).
Istilah perubahan dan pembaharuan ada pebedaan dan persamaanya. Perbedaannya , kalau pada pembaharuan ada unsur kesengajaan. Persamaannya. Yakni sama sama memilki unsur yang baru atau lain dari yang sebelumnya. Kata “Baru” dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Nemun, setiap yang baru itu belum tentu baik setiap situasi, kondisidantempat.
2. Inovasi Pendidikan
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil intervensi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan nasional.
Inovasi (pembaharuan) terkait dengan invention dan discovery. Invention adalah suatu penemuan sesuatu yang benar benar baru, artinya hasil kreasi manusia. Penemuan sesuatu (benda) itu sebelumnya belum pernah ada, kemudian diadakan dengan bentuk kreasi baru. Discovery adalah suatu penemuan (benda), yang benda itu sebenarnya telah ada sebelumnya, tetapi semua belum diketahui orang. Jadi, inovasi adalah usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) baik invention dan discovery.
3. Tujuan Inovasi Pendidikan
Menurut santoso (1974), tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi,relevansi, kualitas, dan efektivitas. Sarana serta jumlah peserta didik sebanyak banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunan), dengan jumlah yang sekecil kecilnya.
Tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1. Mengejar ketinggalan ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan kemajuan tersebut.
2. Mengembangkan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolahbagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Di samping itu, akan di usahakan peningkatan mutu yang dirasakan semakin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian sistem yang baru, dihaarpkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.
3. Masalah Masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi Pendidikan di Indonesia yaitu:
1. Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan bangsaIndonesia.
2. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang, dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
3. Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan dipihak lain kesempatan sangat terbatas.
4. Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Belum berkembangnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
6. Kurang ada relevansi antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.
7. Keterbatasan dana.
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini, telah banyak diperkenalkan inovasi inovasi pendidikan dan atau kurikulum yang diadopsi dari luar negeri maupun hasi pemikiran para ilmuan Indonesia sendiri. Semua inovasi tersebut diharapkan dapat memcahkan permasalahan pendidikan yang sedang dialami di Indonesia.
4. Berbagai upaya inovasi pendidikan
a. Inovasi Kurikulum
Menurut Fuad Ihsan (2005:194) menjelasakan
1. Proyek perintis sekolah pembangunan.(1974)
PPSP adalah salah satu proyek dalam rangka program pendidikan yang ditugaskan untuk mengembangkan satu sistem pendidikan dasar dan menengah.
2. Kurikulum 1975
Kurikulum ini menekankan pada efesiensi dan efentifitas pengunaan dan, daya dan waktu yang tersedia. Proyek Pamong, Pamong singkatan dari pendidikan anak oleh masyarakat, orang tua, dan guru. SMP terbuka (1984), Universitas Terbuka
3. Kurikulum 1984
Proses belajar dan mengajar adalah pendekatan keterampilan proses yang diujudkan dalam bentuk belajar siswa aktif (CBSA)
4. Kurikulum 1994
Perbedaan kurikulum 1994 dengan sebelumnya pada pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, memerlakukan muatan local, penyempurnaan 3 kemampuan dasar menulis, membeca, dan menghitung
5. Kurikulum 2006 KTSP
Semangat dalam Keterbatasan
SEMANGAT DALAM KETERBATASAN
Oleh Ardiansyah
Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmatnya sehingga aku dapat berbagi kisah dengan pembaca melalui tulisan ini. Ini adalah murni kisah yang benar-benar terjadi dan kualami. Meski sebagian besar peristiwa sudah tampak kabur dari ingatanku, namun sedikit banyak telah dapat kugali kembali hingga akhirnya dapat menjadi sebuah tulisan yang tak seberapa ini. Kali ini aku hanya akan sedikit berbagi sepenggal kisah perjalanan hidupku yang penuh dengan suka dan duka sebagai seorang tunanetra. Terlalu panjang sebenarnya untuk dikisahkan, dan jujur saja, mungkin kurang begitu menarik untuk dibagikan. Namun tak mengapalah, meski singkat dan kurang menarik, dengan penuh kerendahan hati kucoba tuliskan kisah ini semoga dapat memberi manfaat bagi pembaca.
Yogyakarta Minggu 28 Juli 2013
Namaku Ardiansyah. Dan aku adalah seorang penyandang tunanetra. Statusku saat ini adalah sebagai seorang mahasiswa disebuah universitas negri di Yogyakarta. Mungkin pembaca bertanya-tanya dalam hati, “bagaimana seorang tunanetra dapat menjadi mahasiswa”. Inilah yang akan aku kisahkan, perjuangan hidupku sebagai seorang tunanetra yang selalu diremehkan, dihina, dipandang sebelah mata oleh teman-teman semasa kecil, kini telah dapat meraih sebagian cita-citanya untuk terus bersekolah dan belajar hingga perguruan tinggi sekarang ini. Namun sepenggal kisah ini belum apa-apa, karena masih akan terus berlanjut hingga nanti entah kapan, mungkin hingga akhir hayatku. Sebab masih banyak impian, harapan dan cita-cita yang ingin aku wujudkan dalam hidupku. Baiklah para pembaca yang budiman, inilah sepenggal kisahku.
Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat sederhana. Pekerjaan ayahku hanyalah sebagai sopir bus, sedangkan ibuku hanyalah sebagai ibu rumahtangga biasa. Aku terlahir normal yaitu belum menyandang tunanetra. Ayah dan ibu sangat bangga pada waktu itu dengan kelahiranku, seorang anak laki-laki yang diharapkan kelak dapat menjadi kebanggaan keluarga. Aku sedikit ingat ketika ibu menimangku entah kapan itu, yang jelas aku belum tunanetra, bahwa aku harus jadi anak pinter, sukses, dan dapat menjadi kebanggaan keluarga. Dan aku ingat pula ketika ayahku suatu saat pernah berujar kepada ibuku, bahwa meski hidup kami pas-pasan, namun beliau akan berusaha menyekolahkanku dengan segala daya dan upaya agar kelak dapat menjadi orang yang berhasil. Hal ini wajar, kerena aku adalah anak pertama dalam keluarga kami. Namun apa hendak dikata, siapalah yang dapat menolak takdir Allah. Siapalah yang dapat mennentang kehendak-Nya, jika Allah telah berkehendak maka pasti segala daya dan upaya siapapun selain karena kehendak_Nya tidak akan berarti apapun. Kala itu usiaku telah menginjak enam tahun. Dan diusia itulah Allah mulai mengujiku dengan ujian yang sangat berat, yaitu dengan diambilnya dua hal yang sangat kucintai, bahkan sangat dicintai oleh siapapun di dunia ini. Bahkan siapapun tidak akan rela untuk menukarnya dengan apapun demi dua benda ini, yaitu mata. Meskipun ujian Allah itu bermula saat aku masih kecil, namun tak pernah sedikitpun lekang dari ingatanku.
Kala itu kakak sepupuku adalah teman bermain semasa kecilku. Dia lebih tua dua tahun dariku. Maka sudah pasti dialah yang selalu mengawasiku dan membimbingku saat kami bermain. Dia adalah anak pamanku yang merupakan kakak dari ibuku. Setiap hari kita memang selalu bermain bersama karena memang pada waktu itu kita tinggal serumah. Keluargaku dan keluarga pamanku memang masih tinggal serumah yaitu di rumah nenekku. Sebab waktu itu memang ayahku belum mempunyai rumah sendiri. Saat itu aku meminta pada kakakku untuk mengajariku naik sepeda. Karena kami belum mempunyai sepeda sendiri, setiap berlatih kami selalu menggunakan sepeda kawan kakakku yang sudah rusak. Pengayuhnya sudah hilang, serta stangnya sudah sedikit bengkok. Bahkan standartny pun sudah tidak ada. Di suatu pagi, seperti biasa aku dengan kakak sepupuku berencana akan berlatih sepeda. Dan tak lama kemudian kakakku pun pergi ke rumah temannya untuk meminjam sepeda. Karena lama menunggu, aku pun lupa dengan rencanaku semula untuk belajar naik sepeda dengan kakakku. Akhirnya pun aku mulai bermain sendiri. Namanya anak kecil, aku gemar sekali bermain sambil berloncat-loncat, berlari-lari bahkan panjat memanjat. Ketika itu, ketika aku sedang berlari, dan tidak memperhatikan arah lariku, tanpa sengaja kakiku terantuk sesuatu dan akupun jatuh tertelungkup dan “Cles!” Sebatang besi tajam menghujam mata kananku. Ternyata, ketika aku sedang asik bermain tadi, kakakku telah menaruh sepeda dengan posisi rebah, karena memang sepeda tersebut sudah tidak ada standartnya. Ternyata sebatang besi tajam tersebut adalah merupakan besi yang mencuat ditempat dimana seharusnya pengayuh sepeda berada. Akupun menjerit! Meraung! Menangis sejadi-jadinya dan akhirnya tak sadarkan diri. Orang serumah gempar karena pristiwa itu, dan ibuku pun mengangis dan meraung-raung dan akhirnya juga jatuh tak sadarkan diri. Dan akupun segera dilarikan kerumasakit untuk menjalani oprasi. Sejak hari itu aku telah memulai kehidupanku sebagai seorang tunanetra. Pada mulanya mata kiriku masih normal, namun karena takdir Allah entah kenapa lambat laun bahkan tanpa kusadari Allah pun mengambil pula mata kiriku. Aku tak tau apa sebabnya, kenapa setelah mata kananku buta, pada akhirnya juga menjalar kemata kiriku. Inilah yang dinamakan takdir.
Kini hari demi hari pun harus kulalui, menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Meski usiaku masih kecil waktu itu, namun aku mulai dapat merasakan betapa sulitnya menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Dulu yang semula aku dapat bermain bersama teman-temanku, lambat laun pun kini satu demi satu teman-temanku mulai menjauhiku dan jarang lagi yang mau bermain denganku. Hal ini karena aku sudah tidak dapat bermain sebagaimana dulu lagi saat aku masih melihat. Seperti bermain kartu, bermain lompat tali, bermain petak umpet dan lain sebagainya. Yang ada kini hanyalah ledekan-ledekan dari teman-temanku. Betapa sedih hatiku setiap teman-teman meledekku sebagai bocah buta. Waktu itu setiap teman-teman meledekku, aku hanya bisa menangis dan mengadu pada ibu. Saat itu ibu hanya berkata “biarkan saja nak... Kamu lebih baik darinya....” dengan penuh perasaan. Setiap teman-temanku meledekku dan aku menangis, selalu saja kata itu yang diucapkan ibuku. Dahulu aku belum dapat merasakan makna dari perkataan ibuku tersebut, namun sekarang setelah dewasa aku mulai dapat mencerna bahwa ucapan ibuku itu merupakan ungkapan tulus seorang ibu tentang keadaan anaknya yang kurang beruntung sebagaimana anak umumnya. Bukan ungkapan penyesalan, melainkan merupakan ungkapan rasa haru dan pernyataan kasih yang tak terkira. Aku yakin, waktu itu terbersit dalam hati ibuku untuk terus merawatku dan menjadikan aku sebagai orang sukses meski tunanetra. Hal ini kuketahui dari kasih sayang ibuku sehari-hari padaku. Ibuku tidak pernah sekalipun mengeluh dengan keadaanku, tak pernah merasa malu mempunyai anak cacat sepertiku, justru selalu menguatkanku dengan nasehat-nasehatnya agar aku selalu optimis dan bersabar dengan keadaanku. Hanya ibulah yang selalu membimbingku melalui hari-hari yang belum terbiasa bagiku, hari-hari yang sulit dalam hidup sebagai seorang tunanetra. Sebab Saat itu ayah sudah mulai jarang di rumah, karena harus bekerja keras mencari nafkah seiring bertambahnya beban yang harus ditanggung ayah dengan lahirnya adik laki-lakiku.
Ternyata ujian Allah yang menimpa keluarga kami tidak hanya itu saja. Selang dua tahun setelah aku menjalani hidup sebagai seorang tunanetra, kembali ujian itu datang mendera hidupku dan keluargaku. Ayah yang sangat kukasihi, ayah yang selalu optimis dengan keadaanku yang tunanetra, ayah yang selalu tak pernah patah semangat untuk mencarikanku obat demi kesembuhanku, dan ayah yang merupakan tulang punggung keluarga, kini harus dipanggil ke hadirat Allah melalui sebuah kecelakaan tragis yang menimpa ayahku saat menunaikan tugasnya sebagai seorang supir bus. Selain ayahku ada pula beberapa orang penumpang yang turut meninggal dan luka-luka berat dalam peristiwa itu. Kini tinggalah ibu yang merupakan satu-satunya pengayomku. Padahal ibu baru saja melahirkan adik laki-lakiku,dan akupun jelas masih belum mandiri meski usiaku sudah menginjak delapan tahun. Hal itu wajar, karena aku belum dapat mengatasi traumaku. Kini tinggal ibulah yang harus berkerja keras untuk menyambung hidup kami dan serta merawatku menggantikan ayah. Meski aku masih kecil, aku pun juga telah dapat ikut merasakan betapa pahitnya hidup yang harus kami jalani.
Masih jelas dalam ingatanku waktu itu, aku selalu merasa iri jika aku mengetahui teman-temanku dapat bersekolah. Aku ingin sekali bersekolah sebagaimana teman-temanku. “ah namun apakah mungkin”, pikirku. Ibu semakin bersedih, jika aku mengeluhkan hal itu padanya. Bahkan tak jarang ibupun sering menangis, jika mengingat keadaan serta keinginanku tersebut. Pernah suatu ketika, dengan memberanikan diri, ibu mendaftarkanku ke sebuah sekolah dasar di kampungku. Hal itu karena ibu merasa iba jika setiap saat mendengar ratapanku yang begitu ingin sekali dapat bersekolah. Namun, yang hingga sekarang membuat perih hatiku, yang membuatku sakit hati jika mengingatnya, bukan hanya sekolah itu tidak menerimaku, melainkan mengataiku sebagai anak yang tak mungkin bersekolah karena kekuranganku. Padahal, ibuku hanya ingin menitipkan saja untuk sementara waktu hingga kami mendapatkan informasi dimana sekolah yang tepat buatku. Terlebih parah lagi, mereka selain tidak dapat menerimaku karena kekuranganku, juga merasa direpotkan jika aku berada di sekolah itu. Membuat malu sekolah, karena telah menerima anak cacat sehingga takut jika masyarakat akan memandang sebagai sekolah yang kurang murit dan kurang berkualitas hingga sampai murit cacatpun diteerima. Hal itu membuat ibuku semakin bersedih, apalagi bukankah menyekolahkanku di SLB yang hanya ada di kota akan perlu biaya mahal? Hal itulah yang pada akhirnya melatar belakangi ibuku terpaksa pergi mengadu nasip ke Jakarta menjadi penjual sayur kliling. Siapa tau akan dapat membiayaiku bersekolah di SLB di kota dan mencukupi kebutuhan adikku yang masih kecil. Dan berangkatlah ibu ke Jakarta untuk mengadu nasib, Sedangkan aku dan adikku tinggal bersama nenek dan paman di kampung.
Ujar-ujar kuno menyatakan, bahwa kehidupan manusia itu seperti roda, terkadang di bawah, dan terkadang pula di atas. Terkadang kita diuji dengan kesulitan hidup, terkadang pula kita pun juga pasti akan diuji dengan kelapangan dan kebahagiaan hidup. Tidak ada kesedihan yang tanpa diiringi kebahagiaan, dan tak ada kebahagiaan yang tanpa diiringi kesedihan. Selang beberapa bulan kemudian, agaknya keberuntungan demi keberuntungan mulai menghampiriku dan keluargaku. Pertama-tama, ibu yang baru empat bulan di Jakarta, diminta pulang oleh adik nenekku atau aku biasa memanggilnya mbah Lik untuk pulang dan mengelola warung makan milik mbah Lik. Hal itu karena memang mbah Lik sudah tua, dan kebetulan beliau juga tidak mempunyai anak yang memarisi usahanya. Dengan demikian, perekonomian keluargaku pun lambat laun Alhamdulillah mulai membaik. Meski ibu selain harus mengelola warung makan mbah Lik juga harus merawat Mbah Lik suami istri yang sudah jompo, namun paling tidak kami sudah dapat hidup dengan lebih baik dari pada sebelumnya. Sedangkan hal berikutnya yang aku anggap sebagai keberuntungan dalam hidupku adalah pada akhirnya akupun dapat bersekolah. Hal yang selama ini kuimpikan, hal yang siang dan malam kuidam-idamkan, akhirnya terwujud. Tak lama setelah kepindahan kami ke Semarang, datanglah sodara mudah ayahku yang konon kata ibuku orang yang cukup kaya di keluarga ayahku. Kedatangan adik ayahku tersebut adalah menawarkan diri bahwa beliau samggup untuk membiayai sekolahku. Tentu saja hal itu sangat menggembirakanku terlebih-lebih ibu. Kalau boleh dikata, hari itu adalah pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira selama aku menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Dan aku yakin, ibuku pun juga demikian. Akupun pada akhirnya dapat bersekolah di Solo, yaitu di sebuah SLB yang khusus bagi anak-anak tunanetra.***
Duabelas tahun tak terasa telah berlalu. Tak terasa pula kini aku sudah lulus SMA. Banyak hal yang telah aku dapatkan selama duabelas tahun bersekolah. disamping ilmu tentunya, melainkan juga pengalaman. Apalagi selama duabelas tahun itu pula aku hidup di asrama sehingga kemandirianku sudah tidak diragukan lagi. Dan Alhamdulillah pula, kini usaha ibuku pun juga sudah lumayan lancar. Meski ibu merupakan tulangpunggung keluarga, namun Alhamdulillah hidup kami pun terbilang cukup. Dan kini, setelah usaha ibuku sudah mulai maju, aku sudah tidak lagi dibiayai sekolah oleh adik ayahku. Bahkan tak jarang pula aku mendapat biasiswa karena beberapa prestasiku yang tak seberapa.
Meskipun aku hidup sebagai seorang tunanetra, namun aku tak ingin menjadi orang yang rendah diri, pesimis, salalu terpuruk, dan terbenam dalam api keputusasaan. Kutepiskan segala rasa keluh-kesah, minder, rendah diri, putus asa jauh-jauh dari hidupku. Sebab aku percaya, bahwa Kekurangan bukan merupakan hambatan untuk meraih kesuksesan, kekurangan bukan merupakan rintangan untuk meraih masa depan yang gemilang. Justru keputusasaan adalah pangkal dari kegagalan untuk meraih apa yang kita inginkan. Banyak sekali orang-orang yang memiliki kekurangan telah menjadi orang sukses. Hellen keler dan herotada Ototake misalnyaa, Hanya berbekal tekat dan semangat, mereka dapat meraih apa yang mereka cita-citakan dalam hidup. Tidak ada yang mustahil di dunia ini asal kita mau berusaha untuk mewujudkannya. Orang-orang seperti mereka itulah yang selalu menjadi motivasiku selama ini untuk berjuang, belajar dan berjuang melawan nasib hingga saat ini bahkan sampai nanti.
Terkadang aku masih merasa sedih jika mengetahui bahwa masih banyak teman-teman tunanetra yang belum mau bangkit dari keterpurukan hidup. Masih banyak diantara mereka yang belum dapat menerima keadaan, belum dapat menerima dengan lapang dada takdir Allah. Banyak diantara mereka yang tidak mau berjuang melawan keputus asaan, melawan nasib untuk bangkit meraih cita-cita. Banyak diantara mereka yang hanya hidup sebagai peminta-minta, berdiam diri di rumah menjadi beban keluarga dan bahkan masyarakat. Hendaknya, kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi ujian hidup, dalam menerima takdir Allah. Dengan demikian,peran guru, pembimbing sekaligus motivator yang tau dunia mereka,yang senasip dengan mereka, dan yang pernah mengalami apa yang mereka alami sangat penting. Karena merekalah yang faham tentang kareter mereka lebih mendalam, dan mereka jugalah yang paling faham secara mendalam tentang emosi mereka. Hal itulah yang melatar belakangi aku bercita-cita untuk berkuliah agar aku dapat menjadi guru dan motifator bagi mereka nantinya. Selain itu, aku ingin menunjukan kepada dunia dan masyarakat bahwa tidak selamanya kaum disabilitas itu lemah, tidak selamanya orang berkekurangan itu menjadi beban keluarga, masyarakat bahkan negara. justru sebaliknya, bahwa kaum disabilitas itu dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, mandiri, bermanfaat bagi orang lain, dan hidup layak sebagaimana orang normal pada umumnya. Maka dari itu, berkuliah di jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa) adalah kurasa yang paling tepat untuk menjembataniku mencapai impianku tersebut. Dan rasa syukur pun tak henti-hentinya aku panjatkan kepada Allah SWT karena pada akhirnya,aku meskipun berkekurangan seperti ini ternyata dapat juga berkuliah di kampus idaman, di kampus impian setiap pemuda, Universitas Negri Yogyakarta (UNY) dan diterima dijurusan PLB.
Demikian seklumit kisah hidupku, semoga dapat menjadi bahan renungan dan sumber inspirasi bagi yang membacanya.
Silahkan kenal Ardiansyah lebih lanjut Klik disini
Oleh Ardiansyah
Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmatnya sehingga aku dapat berbagi kisah dengan pembaca melalui tulisan ini. Ini adalah murni kisah yang benar-benar terjadi dan kualami. Meski sebagian besar peristiwa sudah tampak kabur dari ingatanku, namun sedikit banyak telah dapat kugali kembali hingga akhirnya dapat menjadi sebuah tulisan yang tak seberapa ini. Kali ini aku hanya akan sedikit berbagi sepenggal kisah perjalanan hidupku yang penuh dengan suka dan duka sebagai seorang tunanetra. Terlalu panjang sebenarnya untuk dikisahkan, dan jujur saja, mungkin kurang begitu menarik untuk dibagikan. Namun tak mengapalah, meski singkat dan kurang menarik, dengan penuh kerendahan hati kucoba tuliskan kisah ini semoga dapat memberi manfaat bagi pembaca.
Yogyakarta Minggu 28 Juli 2013
Namaku Ardiansyah. Dan aku adalah seorang penyandang tunanetra. Statusku saat ini adalah sebagai seorang mahasiswa disebuah universitas negri di Yogyakarta. Mungkin pembaca bertanya-tanya dalam hati, “bagaimana seorang tunanetra dapat menjadi mahasiswa”. Inilah yang akan aku kisahkan, perjuangan hidupku sebagai seorang tunanetra yang selalu diremehkan, dihina, dipandang sebelah mata oleh teman-teman semasa kecil, kini telah dapat meraih sebagian cita-citanya untuk terus bersekolah dan belajar hingga perguruan tinggi sekarang ini. Namun sepenggal kisah ini belum apa-apa, karena masih akan terus berlanjut hingga nanti entah kapan, mungkin hingga akhir hayatku. Sebab masih banyak impian, harapan dan cita-cita yang ingin aku wujudkan dalam hidupku. Baiklah para pembaca yang budiman, inilah sepenggal kisahku.
Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat sederhana. Pekerjaan ayahku hanyalah sebagai sopir bus, sedangkan ibuku hanyalah sebagai ibu rumahtangga biasa. Aku terlahir normal yaitu belum menyandang tunanetra. Ayah dan ibu sangat bangga pada waktu itu dengan kelahiranku, seorang anak laki-laki yang diharapkan kelak dapat menjadi kebanggaan keluarga. Aku sedikit ingat ketika ibu menimangku entah kapan itu, yang jelas aku belum tunanetra, bahwa aku harus jadi anak pinter, sukses, dan dapat menjadi kebanggaan keluarga. Dan aku ingat pula ketika ayahku suatu saat pernah berujar kepada ibuku, bahwa meski hidup kami pas-pasan, namun beliau akan berusaha menyekolahkanku dengan segala daya dan upaya agar kelak dapat menjadi orang yang berhasil. Hal ini wajar, kerena aku adalah anak pertama dalam keluarga kami. Namun apa hendak dikata, siapalah yang dapat menolak takdir Allah. Siapalah yang dapat mennentang kehendak-Nya, jika Allah telah berkehendak maka pasti segala daya dan upaya siapapun selain karena kehendak_Nya tidak akan berarti apapun. Kala itu usiaku telah menginjak enam tahun. Dan diusia itulah Allah mulai mengujiku dengan ujian yang sangat berat, yaitu dengan diambilnya dua hal yang sangat kucintai, bahkan sangat dicintai oleh siapapun di dunia ini. Bahkan siapapun tidak akan rela untuk menukarnya dengan apapun demi dua benda ini, yaitu mata. Meskipun ujian Allah itu bermula saat aku masih kecil, namun tak pernah sedikitpun lekang dari ingatanku.
Kala itu kakak sepupuku adalah teman bermain semasa kecilku. Dia lebih tua dua tahun dariku. Maka sudah pasti dialah yang selalu mengawasiku dan membimbingku saat kami bermain. Dia adalah anak pamanku yang merupakan kakak dari ibuku. Setiap hari kita memang selalu bermain bersama karena memang pada waktu itu kita tinggal serumah. Keluargaku dan keluarga pamanku memang masih tinggal serumah yaitu di rumah nenekku. Sebab waktu itu memang ayahku belum mempunyai rumah sendiri. Saat itu aku meminta pada kakakku untuk mengajariku naik sepeda. Karena kami belum mempunyai sepeda sendiri, setiap berlatih kami selalu menggunakan sepeda kawan kakakku yang sudah rusak. Pengayuhnya sudah hilang, serta stangnya sudah sedikit bengkok. Bahkan standartny pun sudah tidak ada. Di suatu pagi, seperti biasa aku dengan kakak sepupuku berencana akan berlatih sepeda. Dan tak lama kemudian kakakku pun pergi ke rumah temannya untuk meminjam sepeda. Karena lama menunggu, aku pun lupa dengan rencanaku semula untuk belajar naik sepeda dengan kakakku. Akhirnya pun aku mulai bermain sendiri. Namanya anak kecil, aku gemar sekali bermain sambil berloncat-loncat, berlari-lari bahkan panjat memanjat. Ketika itu, ketika aku sedang berlari, dan tidak memperhatikan arah lariku, tanpa sengaja kakiku terantuk sesuatu dan akupun jatuh tertelungkup dan “Cles!” Sebatang besi tajam menghujam mata kananku. Ternyata, ketika aku sedang asik bermain tadi, kakakku telah menaruh sepeda dengan posisi rebah, karena memang sepeda tersebut sudah tidak ada standartnya. Ternyata sebatang besi tajam tersebut adalah merupakan besi yang mencuat ditempat dimana seharusnya pengayuh sepeda berada. Akupun menjerit! Meraung! Menangis sejadi-jadinya dan akhirnya tak sadarkan diri. Orang serumah gempar karena pristiwa itu, dan ibuku pun mengangis dan meraung-raung dan akhirnya juga jatuh tak sadarkan diri. Dan akupun segera dilarikan kerumasakit untuk menjalani oprasi. Sejak hari itu aku telah memulai kehidupanku sebagai seorang tunanetra. Pada mulanya mata kiriku masih normal, namun karena takdir Allah entah kenapa lambat laun bahkan tanpa kusadari Allah pun mengambil pula mata kiriku. Aku tak tau apa sebabnya, kenapa setelah mata kananku buta, pada akhirnya juga menjalar kemata kiriku. Inilah yang dinamakan takdir.
Kini hari demi hari pun harus kulalui, menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Meski usiaku masih kecil waktu itu, namun aku mulai dapat merasakan betapa sulitnya menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Dulu yang semula aku dapat bermain bersama teman-temanku, lambat laun pun kini satu demi satu teman-temanku mulai menjauhiku dan jarang lagi yang mau bermain denganku. Hal ini karena aku sudah tidak dapat bermain sebagaimana dulu lagi saat aku masih melihat. Seperti bermain kartu, bermain lompat tali, bermain petak umpet dan lain sebagainya. Yang ada kini hanyalah ledekan-ledekan dari teman-temanku. Betapa sedih hatiku setiap teman-teman meledekku sebagai bocah buta. Waktu itu setiap teman-teman meledekku, aku hanya bisa menangis dan mengadu pada ibu. Saat itu ibu hanya berkata “biarkan saja nak... Kamu lebih baik darinya....” dengan penuh perasaan. Setiap teman-temanku meledekku dan aku menangis, selalu saja kata itu yang diucapkan ibuku. Dahulu aku belum dapat merasakan makna dari perkataan ibuku tersebut, namun sekarang setelah dewasa aku mulai dapat mencerna bahwa ucapan ibuku itu merupakan ungkapan tulus seorang ibu tentang keadaan anaknya yang kurang beruntung sebagaimana anak umumnya. Bukan ungkapan penyesalan, melainkan merupakan ungkapan rasa haru dan pernyataan kasih yang tak terkira. Aku yakin, waktu itu terbersit dalam hati ibuku untuk terus merawatku dan menjadikan aku sebagai orang sukses meski tunanetra. Hal ini kuketahui dari kasih sayang ibuku sehari-hari padaku. Ibuku tidak pernah sekalipun mengeluh dengan keadaanku, tak pernah merasa malu mempunyai anak cacat sepertiku, justru selalu menguatkanku dengan nasehat-nasehatnya agar aku selalu optimis dan bersabar dengan keadaanku. Hanya ibulah yang selalu membimbingku melalui hari-hari yang belum terbiasa bagiku, hari-hari yang sulit dalam hidup sebagai seorang tunanetra. Sebab Saat itu ayah sudah mulai jarang di rumah, karena harus bekerja keras mencari nafkah seiring bertambahnya beban yang harus ditanggung ayah dengan lahirnya adik laki-lakiku.
Ternyata ujian Allah yang menimpa keluarga kami tidak hanya itu saja. Selang dua tahun setelah aku menjalani hidup sebagai seorang tunanetra, kembali ujian itu datang mendera hidupku dan keluargaku. Ayah yang sangat kukasihi, ayah yang selalu optimis dengan keadaanku yang tunanetra, ayah yang selalu tak pernah patah semangat untuk mencarikanku obat demi kesembuhanku, dan ayah yang merupakan tulang punggung keluarga, kini harus dipanggil ke hadirat Allah melalui sebuah kecelakaan tragis yang menimpa ayahku saat menunaikan tugasnya sebagai seorang supir bus. Selain ayahku ada pula beberapa orang penumpang yang turut meninggal dan luka-luka berat dalam peristiwa itu. Kini tinggalah ibu yang merupakan satu-satunya pengayomku. Padahal ibu baru saja melahirkan adik laki-lakiku,dan akupun jelas masih belum mandiri meski usiaku sudah menginjak delapan tahun. Hal itu wajar, karena aku belum dapat mengatasi traumaku. Kini tinggal ibulah yang harus berkerja keras untuk menyambung hidup kami dan serta merawatku menggantikan ayah. Meski aku masih kecil, aku pun juga telah dapat ikut merasakan betapa pahitnya hidup yang harus kami jalani.
Masih jelas dalam ingatanku waktu itu, aku selalu merasa iri jika aku mengetahui teman-temanku dapat bersekolah. Aku ingin sekali bersekolah sebagaimana teman-temanku. “ah namun apakah mungkin”, pikirku. Ibu semakin bersedih, jika aku mengeluhkan hal itu padanya. Bahkan tak jarang ibupun sering menangis, jika mengingat keadaan serta keinginanku tersebut. Pernah suatu ketika, dengan memberanikan diri, ibu mendaftarkanku ke sebuah sekolah dasar di kampungku. Hal itu karena ibu merasa iba jika setiap saat mendengar ratapanku yang begitu ingin sekali dapat bersekolah. Namun, yang hingga sekarang membuat perih hatiku, yang membuatku sakit hati jika mengingatnya, bukan hanya sekolah itu tidak menerimaku, melainkan mengataiku sebagai anak yang tak mungkin bersekolah karena kekuranganku. Padahal, ibuku hanya ingin menitipkan saja untuk sementara waktu hingga kami mendapatkan informasi dimana sekolah yang tepat buatku. Terlebih parah lagi, mereka selain tidak dapat menerimaku karena kekuranganku, juga merasa direpotkan jika aku berada di sekolah itu. Membuat malu sekolah, karena telah menerima anak cacat sehingga takut jika masyarakat akan memandang sebagai sekolah yang kurang murit dan kurang berkualitas hingga sampai murit cacatpun diteerima. Hal itu membuat ibuku semakin bersedih, apalagi bukankah menyekolahkanku di SLB yang hanya ada di kota akan perlu biaya mahal? Hal itulah yang pada akhirnya melatar belakangi ibuku terpaksa pergi mengadu nasip ke Jakarta menjadi penjual sayur kliling. Siapa tau akan dapat membiayaiku bersekolah di SLB di kota dan mencukupi kebutuhan adikku yang masih kecil. Dan berangkatlah ibu ke Jakarta untuk mengadu nasib, Sedangkan aku dan adikku tinggal bersama nenek dan paman di kampung.
Ujar-ujar kuno menyatakan, bahwa kehidupan manusia itu seperti roda, terkadang di bawah, dan terkadang pula di atas. Terkadang kita diuji dengan kesulitan hidup, terkadang pula kita pun juga pasti akan diuji dengan kelapangan dan kebahagiaan hidup. Tidak ada kesedihan yang tanpa diiringi kebahagiaan, dan tak ada kebahagiaan yang tanpa diiringi kesedihan. Selang beberapa bulan kemudian, agaknya keberuntungan demi keberuntungan mulai menghampiriku dan keluargaku. Pertama-tama, ibu yang baru empat bulan di Jakarta, diminta pulang oleh adik nenekku atau aku biasa memanggilnya mbah Lik untuk pulang dan mengelola warung makan milik mbah Lik. Hal itu karena memang mbah Lik sudah tua, dan kebetulan beliau juga tidak mempunyai anak yang memarisi usahanya. Dengan demikian, perekonomian keluargaku pun lambat laun Alhamdulillah mulai membaik. Meski ibu selain harus mengelola warung makan mbah Lik juga harus merawat Mbah Lik suami istri yang sudah jompo, namun paling tidak kami sudah dapat hidup dengan lebih baik dari pada sebelumnya. Sedangkan hal berikutnya yang aku anggap sebagai keberuntungan dalam hidupku adalah pada akhirnya akupun dapat bersekolah. Hal yang selama ini kuimpikan, hal yang siang dan malam kuidam-idamkan, akhirnya terwujud. Tak lama setelah kepindahan kami ke Semarang, datanglah sodara mudah ayahku yang konon kata ibuku orang yang cukup kaya di keluarga ayahku. Kedatangan adik ayahku tersebut adalah menawarkan diri bahwa beliau samggup untuk membiayai sekolahku. Tentu saja hal itu sangat menggembirakanku terlebih-lebih ibu. Kalau boleh dikata, hari itu adalah pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira selama aku menjalani hidup sebagai seorang tunanetra. Dan aku yakin, ibuku pun juga demikian. Akupun pada akhirnya dapat bersekolah di Solo, yaitu di sebuah SLB yang khusus bagi anak-anak tunanetra.***
Duabelas tahun tak terasa telah berlalu. Tak terasa pula kini aku sudah lulus SMA. Banyak hal yang telah aku dapatkan selama duabelas tahun bersekolah. disamping ilmu tentunya, melainkan juga pengalaman. Apalagi selama duabelas tahun itu pula aku hidup di asrama sehingga kemandirianku sudah tidak diragukan lagi. Dan Alhamdulillah pula, kini usaha ibuku pun juga sudah lumayan lancar. Meski ibu merupakan tulangpunggung keluarga, namun Alhamdulillah hidup kami pun terbilang cukup. Dan kini, setelah usaha ibuku sudah mulai maju, aku sudah tidak lagi dibiayai sekolah oleh adik ayahku. Bahkan tak jarang pula aku mendapat biasiswa karena beberapa prestasiku yang tak seberapa.
Meskipun aku hidup sebagai seorang tunanetra, namun aku tak ingin menjadi orang yang rendah diri, pesimis, salalu terpuruk, dan terbenam dalam api keputusasaan. Kutepiskan segala rasa keluh-kesah, minder, rendah diri, putus asa jauh-jauh dari hidupku. Sebab aku percaya, bahwa Kekurangan bukan merupakan hambatan untuk meraih kesuksesan, kekurangan bukan merupakan rintangan untuk meraih masa depan yang gemilang. Justru keputusasaan adalah pangkal dari kegagalan untuk meraih apa yang kita inginkan. Banyak sekali orang-orang yang memiliki kekurangan telah menjadi orang sukses. Hellen keler dan herotada Ototake misalnyaa, Hanya berbekal tekat dan semangat, mereka dapat meraih apa yang mereka cita-citakan dalam hidup. Tidak ada yang mustahil di dunia ini asal kita mau berusaha untuk mewujudkannya. Orang-orang seperti mereka itulah yang selalu menjadi motivasiku selama ini untuk berjuang, belajar dan berjuang melawan nasib hingga saat ini bahkan sampai nanti.
Terkadang aku masih merasa sedih jika mengetahui bahwa masih banyak teman-teman tunanetra yang belum mau bangkit dari keterpurukan hidup. Masih banyak diantara mereka yang belum dapat menerima keadaan, belum dapat menerima dengan lapang dada takdir Allah. Banyak diantara mereka yang tidak mau berjuang melawan keputus asaan, melawan nasib untuk bangkit meraih cita-cita. Banyak diantara mereka yang hanya hidup sebagai peminta-minta, berdiam diri di rumah menjadi beban keluarga dan bahkan masyarakat. Hendaknya, kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi ujian hidup, dalam menerima takdir Allah. Dengan demikian,peran guru, pembimbing sekaligus motivator yang tau dunia mereka,yang senasip dengan mereka, dan yang pernah mengalami apa yang mereka alami sangat penting. Karena merekalah yang faham tentang kareter mereka lebih mendalam, dan mereka jugalah yang paling faham secara mendalam tentang emosi mereka. Hal itulah yang melatar belakangi aku bercita-cita untuk berkuliah agar aku dapat menjadi guru dan motifator bagi mereka nantinya. Selain itu, aku ingin menunjukan kepada dunia dan masyarakat bahwa tidak selamanya kaum disabilitas itu lemah, tidak selamanya orang berkekurangan itu menjadi beban keluarga, masyarakat bahkan negara. justru sebaliknya, bahwa kaum disabilitas itu dapat menjadi inspirasi bagi orang lain, mandiri, bermanfaat bagi orang lain, dan hidup layak sebagaimana orang normal pada umumnya. Maka dari itu, berkuliah di jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa) adalah kurasa yang paling tepat untuk menjembataniku mencapai impianku tersebut. Dan rasa syukur pun tak henti-hentinya aku panjatkan kepada Allah SWT karena pada akhirnya,aku meskipun berkekurangan seperti ini ternyata dapat juga berkuliah di kampus idaman, di kampus impian setiap pemuda, Universitas Negri Yogyakarta (UNY) dan diterima dijurusan PLB.
Demikian seklumit kisah hidupku, semoga dapat menjadi bahan renungan dan sumber inspirasi bagi yang membacanya.
Silahkan kenal Ardiansyah lebih lanjut Klik disini
Rabu, 24 Juli 2013
Senang Awal dari Kesuksesan
Senang dengan sesuatu merupakan hal yang sangat wajar di dalam kehidupan kita. Terlebih lebihnya hal yang sedang disenangi tersebut merupakan hal yang baru bagi kita, sehingga hal tersebut menjadi kesenangan atau menjadi penasaran tersendiri bagi kita.
Pada dasarnya kesenangan tersebut tidak ada masalah bagi kita, karena kesenangan tersebut merupakan kunci awal dari ketekunan, Hal tersebut dapat dilihat pada realitas yang ada di dalam kehidupan kita; yaitu ketika kita senang terhadap sesuatu yang baru, tentunya kita pasti ingin mengetahui, dan selanjutnya ingin bisa terhadap sesuatu yang baru tersebut. Tetapi yang menjadi masalah adalah kesenangan yang negatif atau kesenangan yang tidak dapat terkendali. Artinya kesenangan yang negatif atau kesenangan yang tidak terkendali yaitu bahwa kesenangan yang kita lakukan tersebut dapat membawa dampak negatif bagi kita, selanjutnya kesenangan yang tidak terkendali yaitu bahwa kesenangan yang kita lakukan tersebut dapat membuat lalai terhadap segala sesuatu hal, misalnya; ibadah, makan, dan berdoa.
Oleh karena itu, baerangkat dari senang tersebut, sehingga dapat memunculkan ketekunan. Setelah ketekunan itu sudah didapatkan di dalam kehidupan kita maka kesuksesan ada di dalam kehidupan kita.
Dengan demikian, mari kita menyenangi sesuatu yang positif untuk maraih kesuksesan yang kita inginkan, dan kesenangan tersebut mari kita lakukan dengan terkendali dan terarah sesuai dengan kapasitas kita miliki.
Mungkin itu yang dapat saya bagikan, ada
kurang dan lebihny, saya mohn maaf yang sebesar-besarnya.a
Pada dasarnya kesenangan tersebut tidak ada masalah bagi kita, karena kesenangan tersebut merupakan kunci awal dari ketekunan, Hal tersebut dapat dilihat pada realitas yang ada di dalam kehidupan kita; yaitu ketika kita senang terhadap sesuatu yang baru, tentunya kita pasti ingin mengetahui, dan selanjutnya ingin bisa terhadap sesuatu yang baru tersebut. Tetapi yang menjadi masalah adalah kesenangan yang negatif atau kesenangan yang tidak dapat terkendali. Artinya kesenangan yang negatif atau kesenangan yang tidak terkendali yaitu bahwa kesenangan yang kita lakukan tersebut dapat membawa dampak negatif bagi kita, selanjutnya kesenangan yang tidak terkendali yaitu bahwa kesenangan yang kita lakukan tersebut dapat membuat lalai terhadap segala sesuatu hal, misalnya; ibadah, makan, dan berdoa.
Oleh karena itu, baerangkat dari senang tersebut, sehingga dapat memunculkan ketekunan. Setelah ketekunan itu sudah didapatkan di dalam kehidupan kita maka kesuksesan ada di dalam kehidupan kita.
Dengan demikian, mari kita menyenangi sesuatu yang positif untuk maraih kesuksesan yang kita inginkan, dan kesenangan tersebut mari kita lakukan dengan terkendali dan terarah sesuai dengan kapasitas kita miliki.
Mungkin itu yang dapat saya bagikan, ada
kurang dan lebihny, saya mohn maaf yang sebesar-besarnya.a
Kamis, 04 April 2013
Talk Versi 5.0.3
Malam teman-teman semuanya!
Pada kesempatan ini saya akan berbagi talk yang versi 5.0.3. Talk ini cocok terhadap Handphone yang versi OSnya tinggi.
Seperti Nokia E63, E71, E72, N73, Dan lain-lain. Yang paling penting di dalam talk ini juga diperlengkapi talk yang dapat bahasa Indonesia pengucapanya.
Jika teman-teman berminat dan membutuhkan, silahkan Klik
Disini.
mungkin itu yang dapat saya bagikan, jika ingin bertanya atau membutuhkan bantuan saya silahkan hubungi saya.
Somoga Software ini dapat membantu teman-teman semua yang membutuhkan sofware tersebut.
Pada kesempatan ini saya akan berbagi talk yang versi 5.0.3. Talk ini cocok terhadap Handphone yang versi OSnya tinggi.
Seperti Nokia E63, E71, E72, N73, Dan lain-lain. Yang paling penting di dalam talk ini juga diperlengkapi talk yang dapat bahasa Indonesia pengucapanya.
Jika teman-teman berminat dan membutuhkan, silahkan Klik
Disini.
mungkin itu yang dapat saya bagikan, jika ingin bertanya atau membutuhkan bantuan saya silahkan hubungi saya.
Somoga Software ini dapat membantu teman-teman semua yang membutuhkan sofware tersebut.
Notasi Braille
Notasi Musik Braille,
ditulis oleh: DIDI TARSIDI.
Menyadari pentingnya upaya peningkatan kualitas pendidikan musik bagi tunanetra berikut pengembangannya, Direktorat Pendidikan Luar Biasa Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional melalui Bagian Proyek Peningkatan Pendidikan Bagi Tunanetra Tahun Anggaran 2000, telah menyelenggarakan “Seminar Pembakuan Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik dan Pembinaan Pendidikan Musik bagi Tunanetra”.
Tujuan seminar tersebut adalah untuk memperoleh gambaran umum mengenai permasalahan pengajaran musik di SLB-A, menentukan sistem pengembangan pendidikan musik bagi tunanetra, dan sistem simbol Braille Indonesia di bidang musik.
Peserta seminar terdiri dari unsur pakar pendidikan musik tunanetra ataupun awas, Pusat Kurikulum, akademisi bidang musik, guru musik SLB-A, pemusik tunanetra, dan produsen buku braille. Dalam semiloka ini, para peserta meyakini bahwa pada dasarnya potensi musikal tunanetra tidak berbeda dari orang awas. Karena sistem pengembangan pendidikan musik bagi mereka kurang optimal, karya musik mereka belum mendapat tempat di masyarakat. Di samping itu, belum tersedianya buku sumber dan bahan penyerta yang dapat diakses oleh tunanetra sebagai akibat dari masih sangat terbatasnya Simbol Braille Musik di Indonesia merupakan faktor utama penyebab kegagalan pendidikan musik bagi tunanetra. Jadi, kunci terpenting adalah tersusunnya Pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik yang lengkap. Di sisi lain telah ada simbol braille musik yang disusun oleh World Blind Union Sub Committee Braille Music yang telah digunakan secara internasional. Simbol braille tersebut disusun dalam sebuah buku yang berjudul New International Manual of Braille Music Notation (1996). Mengingat hal itu, seminar merekomendasikan untuk mengadopsi dan menerjemahkan buku tersebut untuk dijadikan sistem simbol braille Indonesia bidang musik. Oleh sebab itu, Direktorat Pendidikan Luar Biasa meminta pihak Yayasan Mitra Netra agar mengusahakan pengadaan buku tersebut dan mengkoordinasikan proses penerjemahannya. Untuk kepentingan itu, Yayasan Mitra Netra atas nama Direktorat Pendidikan Luar Biasa Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional meminta ijin terjemahan kepada Bettye Krolick --sebagai penyusun-- dan World Blind Union --sebagai pemegang hak cipta-- untuk menggunakannya sebagai pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik. Setelah mendapatkan izin, Yayasan Mitra Netra menyerahkan proses terjemahannya kepada sebuah tim yang terdiri atas unsur pakar pendidikan musik baik tunanetra maupun awas, praktisi musik tunanetra yang memahami bahasa Inggris, pakar bahasa Inggris, dan pakar bahasa Indonesia.
Selanjutnya diselenggarakan dua kali pertemuan untuk mengedit hasil terejemahan tersebut. Dari kegiatan pengeditan itu terungkap adanya perbedaan istilah yang lazim digunakan pakar musik awas dengan yang digunakan oleh praktisi musik tunanetra, bahkan antar pakar musik awas itu sendiri. Oleh karena itu dipandang perlu untuk melakukan proses penyusunan ulang hasil terjemahan menjadi pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik seperti pada buku ini, dengan antara lain mencantumkan daftar istilah.
Istilah musik yang dimasukkan ke dalam daftar tersebut adalah istilah yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, atau yang diperkirakan dapat menimbulkan salah tafsir karena belum lazim digunakan di Indonesia, digunakan di Indonesia dengan makna lain, dan terdapat berbagai istilah untuk makna yang sama.
Berikut ini adalah pokok-pokok pikiran yang disepakati dalam proses terjemahan ini:
(1) istilah yang diterjemahkan hanyalah yang dianggap lazim digunakan di Indonesia; (2) istilah yang menggunakan bahasa Italia atau Latin tidak diterjemahkan; (3) istilah yang menggunakan bahasa Inggris sedapat mungkin diterjemahkan;
(4) untuk istilah yang tidak diterjemahkan, diperlakukan sebagai kata pinjaman, yaitu ditulis dengan cetak miring; (5) apabila di dalam buku asli digunakan berbagai istilah untuk suatu konsep atau makna yang sama, maka dalam penterjemahan, dipilih satu istilah yang dianggap paling lazim digunakan di Indonesia; dan (6) tidak mengubah simbol musik dalam braille yang tercantum pada buku asli.
Selanjutnya diselenggarakan Seminar Lokakarya Pembakuan Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik pada tanggal 28 Mei sampai dengan 2 Juni 2001 untuk uji keterbacaan hasil terjemahan. Unsur yang ikut serta dalam kegiatan tersebut adalah organisasi tunanetra, pakar pendidikan musik, baik tunanetra ataupun awas, Pusat Kurikulum, akademisi bidang musik, guru musik SLB-A, pemusik tunanetra, Pusat Bahasa, dan produsen buku braille.
Buku notasi musik Braille tersebut dapat di-download
Disini
Sumber: http://d-tarsidi.blogspot.com/
ditulis oleh: DIDI TARSIDI.
Menyadari pentingnya upaya peningkatan kualitas pendidikan musik bagi tunanetra berikut pengembangannya, Direktorat Pendidikan Luar Biasa Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional melalui Bagian Proyek Peningkatan Pendidikan Bagi Tunanetra Tahun Anggaran 2000, telah menyelenggarakan “Seminar Pembakuan Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik dan Pembinaan Pendidikan Musik bagi Tunanetra”.
Tujuan seminar tersebut adalah untuk memperoleh gambaran umum mengenai permasalahan pengajaran musik di SLB-A, menentukan sistem pengembangan pendidikan musik bagi tunanetra, dan sistem simbol Braille Indonesia di bidang musik.
Peserta seminar terdiri dari unsur pakar pendidikan musik tunanetra ataupun awas, Pusat Kurikulum, akademisi bidang musik, guru musik SLB-A, pemusik tunanetra, dan produsen buku braille. Dalam semiloka ini, para peserta meyakini bahwa pada dasarnya potensi musikal tunanetra tidak berbeda dari orang awas. Karena sistem pengembangan pendidikan musik bagi mereka kurang optimal, karya musik mereka belum mendapat tempat di masyarakat. Di samping itu, belum tersedianya buku sumber dan bahan penyerta yang dapat diakses oleh tunanetra sebagai akibat dari masih sangat terbatasnya Simbol Braille Musik di Indonesia merupakan faktor utama penyebab kegagalan pendidikan musik bagi tunanetra. Jadi, kunci terpenting adalah tersusunnya Pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik yang lengkap. Di sisi lain telah ada simbol braille musik yang disusun oleh World Blind Union Sub Committee Braille Music yang telah digunakan secara internasional. Simbol braille tersebut disusun dalam sebuah buku yang berjudul New International Manual of Braille Music Notation (1996). Mengingat hal itu, seminar merekomendasikan untuk mengadopsi dan menerjemahkan buku tersebut untuk dijadikan sistem simbol braille Indonesia bidang musik. Oleh sebab itu, Direktorat Pendidikan Luar Biasa meminta pihak Yayasan Mitra Netra agar mengusahakan pengadaan buku tersebut dan mengkoordinasikan proses penerjemahannya. Untuk kepentingan itu, Yayasan Mitra Netra atas nama Direktorat Pendidikan Luar Biasa Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional meminta ijin terjemahan kepada Bettye Krolick --sebagai penyusun-- dan World Blind Union --sebagai pemegang hak cipta-- untuk menggunakannya sebagai pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik. Setelah mendapatkan izin, Yayasan Mitra Netra menyerahkan proses terjemahannya kepada sebuah tim yang terdiri atas unsur pakar pendidikan musik baik tunanetra maupun awas, praktisi musik tunanetra yang memahami bahasa Inggris, pakar bahasa Inggris, dan pakar bahasa Indonesia.
Selanjutnya diselenggarakan dua kali pertemuan untuk mengedit hasil terejemahan tersebut. Dari kegiatan pengeditan itu terungkap adanya perbedaan istilah yang lazim digunakan pakar musik awas dengan yang digunakan oleh praktisi musik tunanetra, bahkan antar pakar musik awas itu sendiri. Oleh karena itu dipandang perlu untuk melakukan proses penyusunan ulang hasil terjemahan menjadi pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik seperti pada buku ini, dengan antara lain mencantumkan daftar istilah.
Istilah musik yang dimasukkan ke dalam daftar tersebut adalah istilah yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, atau yang diperkirakan dapat menimbulkan salah tafsir karena belum lazim digunakan di Indonesia, digunakan di Indonesia dengan makna lain, dan terdapat berbagai istilah untuk makna yang sama.
Berikut ini adalah pokok-pokok pikiran yang disepakati dalam proses terjemahan ini:
(1) istilah yang diterjemahkan hanyalah yang dianggap lazim digunakan di Indonesia; (2) istilah yang menggunakan bahasa Italia atau Latin tidak diterjemahkan; (3) istilah yang menggunakan bahasa Inggris sedapat mungkin diterjemahkan;
(4) untuk istilah yang tidak diterjemahkan, diperlakukan sebagai kata pinjaman, yaitu ditulis dengan cetak miring; (5) apabila di dalam buku asli digunakan berbagai istilah untuk suatu konsep atau makna yang sama, maka dalam penterjemahan, dipilih satu istilah yang dianggap paling lazim digunakan di Indonesia; dan (6) tidak mengubah simbol musik dalam braille yang tercantum pada buku asli.
Selanjutnya diselenggarakan Seminar Lokakarya Pembakuan Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik pada tanggal 28 Mei sampai dengan 2 Juni 2001 untuk uji keterbacaan hasil terjemahan. Unsur yang ikut serta dalam kegiatan tersebut adalah organisasi tunanetra, pakar pendidikan musik, baik tunanetra ataupun awas, Pusat Kurikulum, akademisi bidang musik, guru musik SLB-A, pemusik tunanetra, Pusat Bahasa, dan produsen buku braille.
Buku notasi musik Braille tersebut dapat di-download
Disini
Sumber: http://d-tarsidi.blogspot.com/
Sabtu, 12 Januari 2013
KEJENUHAN TERKADANG DATANG DENGAN TIBA-TIBA
Kejenuhan merupakan suatu yang ada dalam diri seseorang, yang muncul dengan pada saat seseorang tidak mempunyai sesuatu hal yang bervariasi.
Kejenuhan dapat juga diartikan sesuatu hal yang menetap, sehingga seseorang mengalami yang disebut titik jenuh. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa hal:
1. Tidak pekerjaan.
2. Kegiatan yang tidak bervariasi.
3. Tidak adanya semangat hidup dalam diri seseorang.
4. Banyak masalah masalah yang terus menurus.
5. Tidak ada recana kedepan untuk masa depan yang akan dihadapi.
Penyabab-penyebab tersebut disetiap orang pasti mengalami salah satu hal yang dialami.
Oleh karena itu, jika sudah tahu apa penyebab yang menjadi kejenuhan yang ada di dalam hidup kita, mari kita mengubah dengan bertahap untuk menghilangkan rasa jenuh yang ada dalam hidup kita untuk menuju suatu yang lebih sukses.
Semoga tulisan sedikit ini dapat bermanfaat dan berguna bagi saudara-saudara.
Kejenuhan dapat juga diartikan sesuatu hal yang menetap, sehingga seseorang mengalami yang disebut titik jenuh. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa hal:
1. Tidak pekerjaan.
2. Kegiatan yang tidak bervariasi.
3. Tidak adanya semangat hidup dalam diri seseorang.
4. Banyak masalah masalah yang terus menurus.
5. Tidak ada recana kedepan untuk masa depan yang akan dihadapi.
Penyabab-penyebab tersebut disetiap orang pasti mengalami salah satu hal yang dialami.
Oleh karena itu, jika sudah tahu apa penyebab yang menjadi kejenuhan yang ada di dalam hidup kita, mari kita mengubah dengan bertahap untuk menghilangkan rasa jenuh yang ada dalam hidup kita untuk menuju suatu yang lebih sukses.
Semoga tulisan sedikit ini dapat bermanfaat dan berguna bagi saudara-saudara.
Kamis, 08 November 2012
Kekuatiran yang menghambat aktivitas
Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang di dalam aktivitasnya kelihatan gelisah dan tidak tenang. Hal itu nampak dalam kehidupan seorang itu. Pada hal seorang tersebut mepunyai kegiatan yang harus dikerjakan dengan fokus dan serius. Dengan demikian, seorang tersebut dalam kenyataanya tidak dapat mengerjakan dengan baik dan serius, sehingga akibat yang diperoleh pekerjaan tersebut tidak sesuai yang diharapkan.
Kegelisahan dan ketidaktenangan seseorang tersebut setelah diamati lebih lanjut dan ditanya oleh seorang temanya, maka ditemukanya apa penyebab kegelisahan orang tersebut, dengan cerita panjang lebar sehingga didapatkanya apa penyabab kegelisahan itu. selanjutnya dengan hasil cerita panjang lebar akhirnya menemukan jawaban bahwa kegelisahan orang tersebut karena "kuatir dalam hidupnya yang bagaimana masa depanya".
Dengan demikian, setelah melihat kisah cerita seorang yang menguatirkan dalam kehidupanya sehingga mebawa dampak yang sangat besar, baik dalam aktivitasnya sehari-hari maupun di dalam kehidupanya itu sendiri.
Oleh kerena itu, kita setelah melihat kisah di atas, maka kita harus bisa percaya diri dan menghilangkan dari rasa kekuatiran tersebut. Karena kekuatiran akan mengakibatkan suatu hal yang kemuduran dalam hidup. mengapa dapat membawa dampak kemunduran dalam hidup? karena orang yang mengalami kekuatiran biasanya cenderung memikirkan hal itu secara terus menerus dan takut untuk melangkah. Tentu setiap orang mempunyai dan mengalami yang namanya kuatir di dalam hidupnya, tetapi, bagaimana kita menyikapi hal itu. Maksudnya dengan adanya rasa kuatir tersebut, kita harus segera menghilangkan rasa itu dan semangat kembali dengan sikap percaya diri kita.
Ok. Demikian dari saya, ini yang dapat saya bagikan.
Terakhir dari saya, hilangkan rasa kuatir dan tetaplah semangat dalam menghadapi realita kehidupan.
Kegelisahan dan ketidaktenangan seseorang tersebut setelah diamati lebih lanjut dan ditanya oleh seorang temanya, maka ditemukanya apa penyebab kegelisahan orang tersebut, dengan cerita panjang lebar sehingga didapatkanya apa penyabab kegelisahan itu. selanjutnya dengan hasil cerita panjang lebar akhirnya menemukan jawaban bahwa kegelisahan orang tersebut karena "kuatir dalam hidupnya yang bagaimana masa depanya".
Dengan demikian, setelah melihat kisah cerita seorang yang menguatirkan dalam kehidupanya sehingga mebawa dampak yang sangat besar, baik dalam aktivitasnya sehari-hari maupun di dalam kehidupanya itu sendiri.
Oleh kerena itu, kita setelah melihat kisah di atas, maka kita harus bisa percaya diri dan menghilangkan dari rasa kekuatiran tersebut. Karena kekuatiran akan mengakibatkan suatu hal yang kemuduran dalam hidup. mengapa dapat membawa dampak kemunduran dalam hidup? karena orang yang mengalami kekuatiran biasanya cenderung memikirkan hal itu secara terus menerus dan takut untuk melangkah. Tentu setiap orang mempunyai dan mengalami yang namanya kuatir di dalam hidupnya, tetapi, bagaimana kita menyikapi hal itu. Maksudnya dengan adanya rasa kuatir tersebut, kita harus segera menghilangkan rasa itu dan semangat kembali dengan sikap percaya diri kita.
Ok. Demikian dari saya, ini yang dapat saya bagikan.
Terakhir dari saya, hilangkan rasa kuatir dan tetaplah semangat dalam menghadapi realita kehidupan.
Jumat, 05 Oktober 2012
MELANGKAH DAN MELANGKAH
Ketika kita berdiam dan merenungi hidup yang telah kita jalani, terkadang kita akan berpikiran yang negatif.
Misalnya; adanya pikiran yang seolah-olah memonis bahwa diri kita tidak bisa apa-apa dan tidak berguna di dunia.
Tetapi hal itu yang dirasakan oleh orang yang merasa mempunyai keterbatasan. Dan sebaliknya, jika apabila yang merenungi kehidupanya adalah orang yang mampu, baik secara kekayaan, akademis, dan kekuasaan. Yang direnungkan adalah kebanyakan merupakan pikiran yang positif, misalnya; Saya pintar, saya mempunyai kekayaan yang melimpah,saya mempunyai kekuasaan dibidang yang saya pegang.
Semua itu karakteristik manusia di dunia. Tetapi yang menjadi permasalahan disini adalah? Bagaimana manusia bisa memaknai hidupnya yang telah diberikan oleh Tuhan.
Selain itu, manusia tidak bisa maju, jika tidak bisa memaknai hidup. Karena,hanya memikirkan kesuksesan yang telah dicapai atau kelemahan yang dimilikinya.
Jadi, segala sesuatu yang dimiliki oleh kita di dunia ini, Baik keterbatasan maupun kemampuan yang handal atau cukup, jadikanlah semuanya ini menjadi sesuatu untuk melangkah yang lebih maju dan lebih maju lagi. Selain itu, jangan cepat puas dengan apa yang telah kita miliki atau yang telah kita raih. Karena, hal itu dapat menghambat kita untuk lebih maju dan untuk membawa perubahan di dalam hidup.
Mungkin ini yang dapat saya bagikan semoga bermanfaat.
Melangkahlah lebih maju dari pada saat ini!!!!
Misalnya; adanya pikiran yang seolah-olah memonis bahwa diri kita tidak bisa apa-apa dan tidak berguna di dunia.
Tetapi hal itu yang dirasakan oleh orang yang merasa mempunyai keterbatasan. Dan sebaliknya, jika apabila yang merenungi kehidupanya adalah orang yang mampu, baik secara kekayaan, akademis, dan kekuasaan. Yang direnungkan adalah kebanyakan merupakan pikiran yang positif, misalnya; Saya pintar, saya mempunyai kekayaan yang melimpah,saya mempunyai kekuasaan dibidang yang saya pegang.
Semua itu karakteristik manusia di dunia. Tetapi yang menjadi permasalahan disini adalah? Bagaimana manusia bisa memaknai hidupnya yang telah diberikan oleh Tuhan.
Selain itu, manusia tidak bisa maju, jika tidak bisa memaknai hidup. Karena,hanya memikirkan kesuksesan yang telah dicapai atau kelemahan yang dimilikinya.
Jadi, segala sesuatu yang dimiliki oleh kita di dunia ini, Baik keterbatasan maupun kemampuan yang handal atau cukup, jadikanlah semuanya ini menjadi sesuatu untuk melangkah yang lebih maju dan lebih maju lagi. Selain itu, jangan cepat puas dengan apa yang telah kita miliki atau yang telah kita raih. Karena, hal itu dapat menghambat kita untuk lebih maju dan untuk membawa perubahan di dalam hidup.
Mungkin ini yang dapat saya bagikan semoga bermanfaat.
Melangkahlah lebih maju dari pada saat ini!!!!
software Pembuka PDF
Hi Teman-teman, pada kesempatan ini saya akan berbagi software untuk membuka file PDF. Software ini akses bagi tunanetra.
Software ini adalah Adobe Acrobat 7.0 Professional. Saya sudah menggunakan dengan lancar,dengan pilihan yang banyak untuk mengubah ke bentuk format yang lain. Misalnya: Microsoft Office Word, TXT dan RTF..
Software ini sangat mudah.
Jika anda tertarik dengan software ini silahkan download
Disini.
Mungkin ini yang saya bagikan semoga bermanfaat.
Software ini adalah Adobe Acrobat 7.0 Professional. Saya sudah menggunakan dengan lancar,dengan pilihan yang banyak untuk mengubah ke bentuk format yang lain. Misalnya: Microsoft Office Word, TXT dan RTF..
Software ini sangat mudah.
Jika anda tertarik dengan software ini silahkan download
Disini.
Mungkin ini yang saya bagikan semoga bermanfaat.
Kamis, 04 Oktober 2012
BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN
Mungkin kita pernah terkagum-kagum dengan pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja. Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka "merdeka” memainkan nada-nada yang indah. Prinsip yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan rohani. Elton Trueblood berkata, "Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan."
Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itutidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata "latihlah" dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang
Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa denganKristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? --ELS
DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA.
Sumber:
Sabda.org
Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itutidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata "latihlah" dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang
Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa denganKristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? --ELS
DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA.
Sumber:
Sabda.org
Minggu, 30 September 2012
"MAKIN TUA MAKIN JADI"
Umumnya masa menjadi tua adalah masa yang sangat ditakuti oleh banyak orang. Mengapa? Karena masa itu dilihat sebagai masa di mana kita kehilangan "guna" bagi siapa saja dan untuk siapa saja. Bayangan tentang daya ingat bahkan kekuatan yang hilang, tidak dibutuhkan, diabaikan, kesepian serta banyak hal lainnya, seringkali membuat orang memandang masa tua sebagai "masa suram". Ketika masa itu tiba kita hanya akan menjadi orang yang pasif Akan tetapi, bayangan tersebut sama sekali tidak terbukti pada "pak tua" Barzilai. Memang fungsi-fungsi fisiknya melemah (ayat 35), namun ia justru sangat "aktif dan berguna" di usianya yang ke-80 tahun. Ia memberi teladan kesetiaan dan kemurahan dengan berinisiatif menyediakan kebutuhan raja pilihan Tuhan, beserta segenap rakyat yang mengikutinya dalam pengungsian (lihat 2 Samuel 17:27-29). Tercatat sebagai orang yang sangat kaya, tampaknya Barzilai adalah seorang pekerja yang luar biasa (ayat 32). Sampai-sampai, ketika situasi negeri membaik, raja Daud berniat mengajaknya ikut ke istana (ayat 33). Tawaran bagi seorang terpandang seperti Barzilai tentu bukan tawaran yang sembarangan. Namun, lagi-lagi Barzilai menunjukkan sikap teladan, memberi kesempatan bagi generasi yang lebih muda untuk berkarya di samping raja (ayat 37) Tanggal 1 Oktober ini, seluruh dunia memperingati hari lanjut usia. Jika Tuhan masih menempatkan mereka ada di tengah kita, tidakkah ada yang Dia ingin kita pelajari dari mereka? Jika Anda adalah pembaca yang sudah berumur lanjut, kiranya Tuhan memampukan Anda seperti Barzilai, memakai kekayaan usianya untuk memberi kontribusi yang berarti bagi zaman ini. –WIN MAKIN TUA MAKIN JADI,MAKIN PANJANG USIA MAKIN BESAR KESEMPATAN HIDUP BERARTI. Tuhan memberkati. Sumber: Sabda.org
Jumat, 28 September 2012
MEWUJUDKAN VISI
Ada ungkapan, "Orang yang malang bukanlah orang yang tidak dapat melihat, melainkan orang yang dapat melihat, tetapi tidak mempunyai visi." Ungkapan ini menggambarkan pentingnya visi. Namun, mewujudkannya tak selalu mudah.
Nehemia mendapat visi dari Allah untuk membangun tembok Yerusalem saat berada di pembuangan sebagai juru minum raja. Setelah menangkap visi dari Tuhan, ia berdoa dan berpuasa, kemudian ia minta izin kepada raja untuk pulang ke kota asalnya (pasal 1-2:10). Menarik bahwa selama tiga hari di sana Nehemia belum berdialog dengan siapa pun (ayat 11). Ia bahkan menyelidiki pada malam hari agar tidak dilihat orang (ayat 12-16). Membangun tembok Yerusalem bukan pekerjaan mudah. Jika mudah, tentu sudah lama orang melakukannya. Bagaimana Nehemia yang baru datang bisa menyakinkan penduduk setempat untuk menggarap pekerjaan yang begitu besar? Bukan kehebatan diri yang dibagikan Nehemia, tetapi kemurahan Allah yang telah memeliharanya (ayat 18). Seorang buangan bisa dipercaya raja dan dibekali segala perlengkapan untuk membangun tembok Yerusalem.
Betapa kesaksian itu menunjukkan perkenan Allah! Segenap orang pun berespons dengan semangat!
Mungkin Anda pun tengah bergumul dengan visi yang Tuhan letakkan di hati Anda. Banyak tantangan yang membuat visi terasa seperti mimpi yang tak mungkin diraih. Akankah orang-orang mendukungnya? Mintalah hikmat Tuhan untuk mengerti langkah yang perlu ditempuh. Bawalah orang melihat visi yang dari Tuhan dan berespons kepada Dia, dan nantikanlah Tuhan menempatkan orang-orang sevisi untuk melayani bersama Anda. --YBP VISI PELAYANAN DIWUJUDKAN DENGAN PEMAHAMAN YANG TEPAT AKAN RENCANA TUHAN, DIRI SENDIRI DAN ORANG-ORANG, DAN SITUASI.
Sumber
Klik Disini
Sabtu, 25 Agustus 2012
KAPASITAS KREATIF
Peradaban manusia melalui jaman agraris, industri, informasi dan kini jaman kreatif. Kita dituntut menguasai kemampuan unik di setiap jaman agar bisa bersaing.
Apa kemampuan agar kita bisa bersaing di jaman kreatif?
Generasi kakek kita mengidamkan bekerja di sebuah gedung mulai dari pertama kerja hingga pensiun. Generasi ayah kita mengidamkan pekerjaan tetap yang rutin bekerja dari jam 8 hingga jam 17. Tapi generasi saat ini berharap pekerjaan yang fleksibel, tidak monoton dan bisa mengekspresikan potensi diri.
Kita hidup dalam jaman yang terus bergerak dan mengalami perubahan. Jaman kakek kita bukan jaman ayah kita dan bukan jaman kita. Jaman kakek nenek kita hanya negara yang mampu mengglobal dalam bentuk penjajahan (Globalisasi 1.0). Jaman ayah kita hanya perusahaan besar yang mampu mengglobal dalam bentuk ekspansi pasar (Globalisasi 2.0).
Dalam era industri dan informasi, dunia kerja itu rutin, sistematis dan efisien. Kemampuan otak kiri sangat dibutuhkan untuk itu. Pekerjaan mencari siapa yang bisa mengerjakan lebih cepat dan lebih murah. Oleh karena itu, sistem pendidikan dan organisasi kerja kita didesain untuk memenuhi kebutuhan kedua jaman tersebut. Jaman kita? Setiap orang bisa mengglobal berkat internet dan media sosial. Setiap orang bisa berkreasi dan mengekspresikannya secara luas. Inilah jaman kreatif. Inilah Globalisasi 3.0. Setiap jaman tersebut membutuhkan kapasitas yang berbeda untuk sukses.
Tapi di jaman kreatif atau era konseptual, menurut, Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind, dibutuhkan 6 kapasitas baru agar kita bisa bersaing.
Enam kapasitas itu adalah sinergi antara otak kiri dan otak kanan yang melahirkan high concept – high touch. Enam kapasitas yang menuntut kita mengimajinasikan ulang sistem pendidikan, karir dan organisasi kerja kita. Daniel H. Pink, menuliskan buku A Whole New Mind, sebenarnya sebagai sebuah peringatan bagi bangsa Amerika Serikat agar tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa Asia. Nah, karena kita bisa baca buku itu, memgapa tidak kita belajar untuk menguasai 6 kapasitas itu sehingga bisa bersaing di jaman kreatif?
Sekarang, apa saja 6 kapasitas kreatif itu?
1. Bukan hanya fungsi tetapi juga DESAIN.
Dalam membuat produk, jasa dan layanan tidak semata berpikir tentang fungsional. Bukan lagi sekedar membuat sebuah alat yang bisa digunakan untuk mendengarkan berita dan musik bernama radio. Tapi lebih dari itu, kita perlu mendesain radio yang indah, unik dan menyentuh emosi, seperti Radio Magno. Kita perlu kapasitas untuk berpikir desain.
2. Bukan hanya argumen tetapi juga CERITA.
Jaman kita telah dibanjiri oleh berbagai informasi dan data. Tidak cukup lagi meyakinkan orang dengan menggunakan argumen. Kesadaran akan diri dan menciptakan cerita jauh lebih efektif dalam menyentuh emosi orang lain.
3. Bukan hanya fokus tetapi juga SIMPONI.
Jaman industri dan informasi menuntut kita untuk fokus dan spesialisasi pada suatu bidang. Fokus tidak cukup lagi, kita dituntut mampu memandang gambaran besar dan mensintesakan berbagai sumber daya yang ada. Tidak cukup ahli di bidang fashion, tapi juga kemampuan mensinergikan dengan potensi lokal untuk menciptakan Jember Fashion Carnival.
4. Bukan hanya logis tetapi juga EMPATI.
Dalam era setiap orang tehubungan dengan orang lain, tidak cukup logika yang melandasi hubungan tersebut. Kita dituntut mengasah empati kita untuk memahami emosi orang lain. Kemampuan untuk mendengarkan, menghargai dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
5. Bukan hanya keseriusan tetapi juga BERMAIN.
Jaman industri dan informasi telah menuntut kita untuk bekerja serius dari pagi sampai malam. Keseriusan melahirkan efisiensi. Tapi jaman kreatif membutuhkan ide segar dari kita yang lahir justru ketika kita dalam keadaan bermain yang santai, relaks, dan penuh humor. Perhatikan saja kantor Google yang justru menyediakan banyak arena bermain.
6. Bukan hanya akumulasi tetapi juga MAKNA.
Jaman industri dan informasi membuat orang berlomba-lomba mengakumulasikan hasil kerja atau kekayaan. Ketika kekayaan didapat, seringkali justru perasaan kosong yang lahir. Pada jaman kreatif, orang-orang akan mengimbangi dengan upaya mengejar hasrat agar lebih berarti seperti gerakan sosial yang lahirkan makna hidup dan gerakan spiritualitas.
Sumber: Profec
Jumat, 17 Agustus 2012
SUATU HAL YANG BERHARGA
Manusia terkadang hanya melihat dari sebelah mata, Akhirnya menganggap suatu hal itu tidak berguna. sehingga yang tumbuh di dalam pandangan kita adalah pandangan yang sempit.
Misalnya; kita memandang seekor burung Gagak, burung Gagak tersebut menurut pandangan orang Jawa atau presepsi orang Jawa, burung Gagak tersebut jika mendatangi suatu rumah akan membawa kematian atau sial. Padahal burung Gagak tersebut jika dipandang secara luas, berguna sangat besar misalnya, ketika air Bah tersebut datang dan Nuh ingin mengetahui Air bah tersebut sudah turun apa belum akhirnya Nuh melepaskan burung Gagak tersebut. Seperti yang ada di dalam Kejadian 8 ayat 7: Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.
Selain itu, betapa besar berharganya burung di mata Tuhan, seperti burung-burung yang ada di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, tetapi tetap dapat diberi makan oleh Tuhan kita. Itulah burung-burung yang terkadang dianggap oleh manusia kurang berharga bahkan tidak berharga,.
Oleh karena itu, kita jangan sampai menganggap suatu hal tertentu tidak berharga, karena yang kita pandang hanya sebelah mata saja, ternyata lebih berharga bagi Tuhan. Dengan demikian, yang perlu kita perhatikan adalah kita jangan sampai putus asa, karena merasa kita bagian yang terkecil, tidak berharga, merasa tidak mampu melakukan apapun.
Mari kita lihat burung-burung yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, itu saja diberi makan oleh Tuhan, terlebihnya kita bisa melebihi burung-burung tersebut.
Ini yang dapat saya bagikan, semoga apa renungan yang kita baca ini dapat menjadi bekal di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Misalnya; kita memandang seekor burung Gagak, burung Gagak tersebut menurut pandangan orang Jawa atau presepsi orang Jawa, burung Gagak tersebut jika mendatangi suatu rumah akan membawa kematian atau sial. Padahal burung Gagak tersebut jika dipandang secara luas, berguna sangat besar misalnya, ketika air Bah tersebut datang dan Nuh ingin mengetahui Air bah tersebut sudah turun apa belum akhirnya Nuh melepaskan burung Gagak tersebut. Seperti yang ada di dalam Kejadian 8 ayat 7: Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.
Selain itu, betapa besar berharganya burung di mata Tuhan, seperti burung-burung yang ada di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, tetapi tetap dapat diberi makan oleh Tuhan kita. Itulah burung-burung yang terkadang dianggap oleh manusia kurang berharga bahkan tidak berharga,.
Oleh karena itu, kita jangan sampai menganggap suatu hal tertentu tidak berharga, karena yang kita pandang hanya sebelah mata saja, ternyata lebih berharga bagi Tuhan. Dengan demikian, yang perlu kita perhatikan adalah kita jangan sampai putus asa, karena merasa kita bagian yang terkecil, tidak berharga, merasa tidak mampu melakukan apapun.
Mari kita lihat burung-burung yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, itu saja diberi makan oleh Tuhan, terlebihnya kita bisa melebihi burung-burung tersebut.
Ini yang dapat saya bagikan, semoga apa renungan yang kita baca ini dapat menjadi bekal di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Rabu, 15 Agustus 2012
MERDEKA di dalam kehidupan sehari-hari
Seseorang di dalam kehidupannya terkedang belum bisa merasa merdeka. Mengapa belum merasa merdeka? karena di dalam kehidupannya setiap orang tidak dapat menerima semua apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Akhirnya hal itu sulit dirasakan oleh semua orang.
Permasalahan yang ada di dalam kehidupan tersebut tentunya diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan supaya setiap orang dapat merasakan hal kemerdekaan itu di dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sebenarnya setiap orang dapat melakukan dengan baik, tetapi terkadang sifat orang itu yang tidak dapat menerima keadaan yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Oleh karena itu, untuk mempertahankan dan untuk merasakan kemerdekaan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari mari kita tumbuhkan rasa syukur kita kepada Tuhan dan selain itu kita harus tetap semangat untuk menghadapi realitas yang ada di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Jika hal itu dapat tercapai semoga kemerdekaan ada di dalam kehidupan kita.
Semoga renungan ini bermanfaat, hanya ini yang dapat saya bagikan. Ada kurang dan lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Permasalahan yang ada di dalam kehidupan tersebut tentunya diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan supaya setiap orang dapat merasakan hal kemerdekaan itu di dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sebenarnya setiap orang dapat melakukan dengan baik, tetapi terkadang sifat orang itu yang tidak dapat menerima keadaan yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Oleh karena itu, untuk mempertahankan dan untuk merasakan kemerdekaan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari mari kita tumbuhkan rasa syukur kita kepada Tuhan dan selain itu kita harus tetap semangat untuk menghadapi realitas yang ada di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Jika hal itu dapat tercapai semoga kemerdekaan ada di dalam kehidupan kita.
Semoga renungan ini bermanfaat, hanya ini yang dapat saya bagikan. Ada kurang dan lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Minggu, 12 Agustus 2012
KEKUATAN YANG MEMUSAT
Ketika membaca judul di postingan ini tentunya ada suatu pertanyaan yang muncul, apa yang dimaksud dengan kekuatan yang memusat?
Kekuatan yang memusat disini bukanlah kekuatan yang berupa energi yang nampak di dalam badan kita yang digunakan sehari-hari. Tetapi kekuatan yang berupa semangat atau spirit yang ada di dalam diri kita masing-masing.
Setiap manusia pasti ada kekuatan tersebut yang berupa semangat, namun terkadang hal itu dibiarkan saja dan akhirnya menjadi kekuatan yang tidak memusat.
Dengan permasalahan tersebut, segala hal yang kita lakukan dengan tidak fokus atau tidak menggunakan kekuatan yang memusat, yang dapatkan adalah kegiatan kita akan hancur dan tidak sesuai dengan target.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut jika mempunyai suatu kegiatan atau pekerjaan yang direcanakan baik hasil maupun waktunya, yang haru s kita lakukan yaitu berkonsentrasi penuh pada kegiatan tersebut, memberikan jadwal waktu sepenuhnya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, menghidarkan dari pikiran-pikiran yang negatif yang ada di dalam diri kita.
Mungkin ini yang dapat sya bagikan, semoga bermanfaat, jika ada kurang dan lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kekuatan yang memusat disini bukanlah kekuatan yang berupa energi yang nampak di dalam badan kita yang digunakan sehari-hari. Tetapi kekuatan yang berupa semangat atau spirit yang ada di dalam diri kita masing-masing.
Setiap manusia pasti ada kekuatan tersebut yang berupa semangat, namun terkadang hal itu dibiarkan saja dan akhirnya menjadi kekuatan yang tidak memusat.
Dengan permasalahan tersebut, segala hal yang kita lakukan dengan tidak fokus atau tidak menggunakan kekuatan yang memusat, yang dapatkan adalah kegiatan kita akan hancur dan tidak sesuai dengan target.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut jika mempunyai suatu kegiatan atau pekerjaan yang direcanakan baik hasil maupun waktunya, yang haru s kita lakukan yaitu berkonsentrasi penuh pada kegiatan tersebut, memberikan jadwal waktu sepenuhnya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, menghidarkan dari pikiran-pikiran yang negatif yang ada di dalam diri kita.
Mungkin ini yang dapat sya bagikan, semoga bermanfaat, jika ada kurang dan lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Rabu, 08 Agustus 2012
Pentingnya Agama Kristen Sebagai Dasar Peningkatan Kualitas Hidup Tunanetra
Disusun oleh :
Vindi Dwi Winantyo
NIM: 0120112012
Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia (STAKM)
Jogjakarta
A. Pendahuluan.
1. Latar belakang masalah.
Keberadaan tunanetra di tengah-tengah masyarakat saat ini belum bisa diterima dengan baik. Fenomena ini muncul pada kehidupan tunanetra ketika bersosialisasi dengan masyarakat secara luas atau di lingkungan non-disabel. Hal itu akhirnya menimbulkan permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat umum atau masyarakat non-disabel.
Permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat itu disebabkan oleh dua faktor. Hal itu nampak pada lingkungan masyarakat non-disabel maupun kehidupan tunanetra tersebut. Salah satu masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat, penyandang tunanetra belum bisa menempatkan diri di tengah-tengah masyarakat dengan baik, misalnya; masih ada penyandang tunanetra yang tergantung penuh kepada masyarakat non-disabel. Di sisi lain, masyarakat non-disabel itu bertujuan untuk memperhatikan dan membantu para penyandang tunanetra, tetapi akhirnya menjadi suatu ketergantungan yang terus menerus. Sehingga para penyandang tunanetra yang mempunyai ketergantungan kepada masyarakat non disabel tersebut, pada akhirnya menjadi suatu kemalasan bagi para penyandang tunanetra untuk berusaha memperjuangkan hidupnya. Permasalahan yang lain yaitu dengan jumlah tunanetra yang cukup besar merupakan suatu hal yang dilematis, di satu sisi jumlah tunanetra yang banyak tersebut dapat menjadi potensi untuk menjadi motivator dan inspirator dalam berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dikembangkan. Namun, di sisi lain menjadi kerentanan karena keterbatasan yang dialami berpotensi untuk memposisikan para tunanetra berada pada ekonomi lemah, sehingga akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan dan kemandirian menjadi berkurang. Kondisi keterbatasan ini juga sangat rentan menjadikan para tunanetra kurang peka terhadap lingkungan sosial. Jadi, jika ditinjau kembali permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat tersebut, hanya sebagian saja yang menjadi pandangan negative oleh masyarakat non disabel. Tetapi hal ini menjadi permasalahan di Indonesia yang dialami oleh semua penyandang tunanetra, mulai dari diskriminasi dan kemiskinan yang tidak berujung, krisis energi dan sumberdaya pangan yang mengancam di depan, hingga permainan politik yang berdampak pada kehidupan masyarakat secara umum.
Fenomena tersebut sampai saat ini masih menjadi pemikiran semua khalayak. Karena hal itu menjadi masalah yang ada di Indonesia yang harus dicari solusinya supaya bisa terlepas dari pandangan negative masyarakat terhadap tunanetra. Dengan melihat keadaan yang digambarkan diatas, permasalahan yang muncul tersebut dapat disimpulkan bahwa pandangan-pandangan negative dari masyarakat, itu disebabkan oleh penyandang tunanetra itu sendiri.
Oleh karena itu, untuk mengubah pandangan negative masyarakat tersebut, yang harus dilakukan oleh para penyandang tunanetra adalah meningkatkan kwalitas untuk mempertahankan hidupnya di dalam masyarakat non disabel. Karena keberadaan tunanetra di tengah-tengah masyarakat non disabel merupakan keadaan yang minoritas, untuk meningkatkan kwalitas dan mempertahankan hidup para penyandang tunanetra di tengah-tengah masyarakat non disebel tersebut supaya hal itu bisa berhasil dengan baik yang sesuai menggunakan Pendidikan Agama Kristen. Karena, Pendidikan Agama bertujuan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk penyandang tunanetra agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti yang luhur, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
2. Rumusan masalah.
a. Bagaimana mengubah pandangan negatif masyarakat?
b. Apa penyebab terjadinya pandangan negatif tersebut?
c. Seberapa besar perubahan tersebut?
d. Upaya apa yang dapat dilakukan?
B. Pembahasan.
Masyarakat adalah sekumpulan orang-orang yang menempati suatu wilayah tertentu, yang di dalamnya terjadi interaksi untuk saling memenuhi kebutuhan bersama serta bersosialisasi dengan sesama anggota masyarakat lainnya. Selain itu, Di dalam masyarakat terdapat keberagaman. Keberagaman tersebut dapat berupa ciri fisik yang khas, pekerjaan/mata pencaharian, pendidikan, status sosial, dan lain sebagainya. Sehingga di antara keberagaman tersebut, penyandang tunanetra merupakan bagian dari masyarakat tersebut.
Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya, tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (low vision).
Adapun definisi yang lain dibagi menjadi dua yaitu definisi secara medis dan definisi secara pendidikan. Definisi medis ini didasarkan pada ketajaman penglihatan dan lantang pandangan. Seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan (visus) 20/200 atau kurang tergolong buta. Sedangkan yang memiliki visus antara 20/70 tergolong low vision. Meskipun seseorang memiliki ketajaman penglihatan normal tetapi lantang pandangannya kurang dari 20 derajat juga tergolong buta. Karena difinisi medis ini semata-mata didasarkan pada ketajaman penglihatan, sering ditemukan seseorang yang memiliki ketajaman penglihatan sama tetapi kemampuan penggunaan penglihatannya berbeda. Di samping itu berdasarkan data statistic bahwa seseorang yang digolongkan buta keadaan penglihatannya sangat beragam. Penggolongan ketunanetraan berdasarkan media yang digunakan untuk membaca dan menulis merupakan dasar dari definisi pendidikan. Seseorang yang belajar dengan menggunakan indera perabaan dan pendengaran digolongkan sebagai buta. Sedangkan seseorang yang masih mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca meskipun dengan tulisan yang diperbesar (diadaptasi) mereka digolongkan sebagai low vision. Selain itu, seseorang yang masih mampu menggunakan penglihatannya tetapi mengalami gangguan pada situasi tertentu tergolong sebagai limited vision.
Menurut Lowenfeld, akibat ketunanetraan menimbulkan tiga macam keterbatasan, yaitu (1) keterbatasan dalam hal luas dan variasi pengalaman, (2) keterbatasan dalam bergerak atau mobilitas, (3) keterbatasan berinteraksi dengan lingkungan (dalam Sunanto: 1).
Oleh karena itu, akibat berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka para penyandang tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya, sehingga tidak sedikit penyandang tunanetra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan. Namun disisi lain hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial, seperti penolakan oleh lingkungan sosialnya, kesulitan membina hubungan sosial, dan sikap belas kasihan dan overproteksi dari orang-orang lain, serta kesulitan mendapatkan pekerjaan (Golub, 2003). Selain itu, penyesuaian diri seorang tunanetra akan lebih lama dibandingkan dengan orang yang melihat. Karena penyesuaian diri seseorang dapat merupakan proses yang panjang, dan mungkin harus dilakukan melalui berbagai macam cara (Tarsidi, 1999).
Langkah yang dapat dilakukan, untuk menghadapi permasalahan tersebut supaya terlepas dari permasalahan yang dirasakan oleh penyandang tunanetra adalah yang pertama dan yang paling utama, tentunya harus diawali dari sikap dan kepribadian para penyandang tunanetra terlebih dahulu, supaya masyarakat non disabel bisa menerima para penyandang tunanetra dengan baik. Oleh karena itu, Para penyandang tunanetra harus mampu menyusaikan diri dengan lingkungan masyarakat non disabel dengan cara mengubah sikap dan kepribadian penyandang tunanetra sendiri untuk meningkatkan kwalitas hidup di tengah-tengah masyarakat umum. Karena, keberadaan penyandang tunanetra di tengah-tengah masyarakat di dalam keadaan minoritas.
Sikap dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang relatif permanent dan terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognisi, komponen perasaan, dan komponen kecenderungan tindakan [action tendency component]. Yang berpusat pada satu obyek (Krech et al, 1982:147). Namun pada akhirnya Sikap cenderung mempersempit, melestarikan, dan menstabilkan dunia individu. Tetapi manusia tidak dapat hidup secara autistik di dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Dunia "di luar" dirinya senantiasa bergerak, dan semua manusia, pada tingkat yang bervariasi, responsif terhadap perubahan yang terjadi di dalam dunia sekitarnya. Pada saat mereka berusaha menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah itu, mereka mengubah sikapnya, baik secara mudah ataupun sulit, dengan sukarela ataupun dengan enggan (1982:215).
Oleh karena itu, perubahan sikap tersebut supaya tidak menjadi suatu hal yang sulit untuk dilakukan dan tidak menjadi suatu angan-angan saja. Maka di dalam pembahasan ini, untuk memecahkan permasalahan tersebut menggunakan pendidikan Agama Kristen yang mendasari untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang tunanetra. Karena pendidikan Agama Kristen merupakan dasar untuk membentuk karakter, menanamkan Iman Kristen, dan untuk memngembangkan potensi diri pada anak-anak. Selain itu, peran pendidikan Agama Kristen sangat penting di dalam kehidupan umat manusia untuk memperoleh hidup yang bermakna dan penuh harapan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan, diunduh 3 Juni 2012).
Pengertian Pendidikan Agama Kristen secara harfiah dan sederhana adalah pendidikan untuk umat beragama Kristen. Sedangkan pengertian pendidikan Agama Kristen secara luas adalah subyek yang berkaitan dengan pengalaman dari peserta didik dan memberikan kontribusi untuk perkembangan yang sehat mereka yaitu fisik, emosional, sosial, spiritual, moral dan kognitif. Hal ini dapat membantu peserta didik untuk mengidentifikasi kemampuan yang berbeda dan karunia yang diberikan oleh Allah dan dapat membantu mereka untuk mengembangkan potensi diri dengan kemampuan secara maksimal.
Keadaan penyandang tunanetra selain mempunyai kelemahan secara fisik, tetapi ketika mendapat pandangan negative dari masyarakat penyandang tunanetra tersebut akan merasa putus asa dalam kehidupannya secara terus menurus. Hal ini berarti menunjukkan bahwa keadaan penyandang tunanetra tidak mempunyai harapan dan tidak mampu mengembangkan dirinya dengan potensi yang telah diberikan oleh Allah. Pada hal setiap manusia pasti mempunyai talenta yang telah diberikan oleh Allah, tetapi talenta yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap orang tentunya berbeda-beda. Meskipun adanya perbedaan di dalam pemberian talenta yang telah diberikan, tetapi hal itu tidak menjadi suatu permasalahan bagi penyandang tunanetra untuk mengembangkan kemampuanya di dalam kehidupanya sehari-hari.
Permasalahan yang menjadi penghambat untuk mengembangkan potensi diri pada penyandang tunanetra adalah pola pikir yang dibentuk oleh penyandang tunanetra itu sendiri. Pola pikir yang ada di dalam penyandang tunanetra tersebut merupakan pola pikir yang membuat penyandang tunanetra tidak dapat berkembang dan kehilangan motivasi. Misalnya, penyandang tunanetra merasa tidak berguna di tengah-tengah masyarakat non-disabel ketika mendapat anggapan bahwa penyandang tunanetra tidak mampu untuk melakukan kehidupan di tengah-tengah masyarakat non-disabel. Selain itu, munculnya perasaan dari penyandang tunanetra bahwa penyandang tunanetra merupakan kaum yang tertindas dan tidak mempunyai harapan untuk hidup. Akhirnya hal itu membentuk pola pikir yang ada di dalam penyandang tunanetra yang menghambat untuk meningkatkan kualitas dan potensi diri. Pola pikir tersebut harus segera diperhatikan dan diperbaiki, karena, jika hal itu masih ada di dalam penyandang tunanetra secara teruss meneruss akan membuat hidup para penyandang tunanetra tidak dapat mencapai kebebasan dari permasalahan yang dihadapinya.
Pengharapan untuk mencapai hasil tersebut, tentunya diperlukan perjuangan bagi semua orang baik laki-laki maupun perempuan, yang tertindas (Freire, 1999: 40). Perjuangan tersebut tentunya harus mengorbankan segala sesuatunya dengan keterbatasan yang dimiliki yaitu dengan cara mengembangkan potensi yang ada di dalam diri para penyandang tunanetra. Pengembangan potensi tersebut dapat berupa pemahaman kehidupan secara politik dan pemahaman yang lebih kritis tentang situasi penidasan. Karena, pemahaman terhadap kehidupan politis dan mengetahui tentang situasi penindasan dapat mengubah kondisi-kondisi konkrit.
Pratek pendidikan yang digunakan bersifat menyingkapkan dan memberikan pengertian. Karena, penyandang tunanetra di dalam kehidupanya ada ingatan akan banyak tenunan yang masuk dalam sejarah diri sendiri, misalnya, ingat pada masa kecil dan masa remaja. Selain itu, ingat akan hilangnya senyuman pada waktu kesalahpahaman dan ingat kepahitan masa lalu.
Pendidikan tersebut adalah pendidikan pedagogi pengharapan (Freire, 1999: 51). Salah satu tugas pedagogi pengharapan pertama kali adalah menciptakan rakyat yang demokratis. Kemudian diperluas tugas pedagogi harapan tersebut yaitu memampukan kelompok-kelompok rakyat untuk mengembangkan kemampuan mereka bukan dengan bahasa ’para pendidik’ otoriter dan sektarian, tetapi bahasa mereka sendiri. Sehingga kembali kepada realitas mereka, dan mampu memperkirakan rancangan-rancangan, desain-desain mereka, dan dapat mengantisipasi dunia mereka yang dihadapinya. Di sinilah pusat pendidikan yang baik bagi rakyat yang tertindas.
Menurut Freire, manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah (dalam Manggeng, 2005: 42). Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri nara didik.
Paulo Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia, yaitu, pertama, kesadaran intransitif dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang menindas. Kedua, kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan. Ketiga, kesadaran Naif. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai sikap primitif dan naif, seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat. Keempat, kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat (dalam Manggeng, 2005: 42-43). Pembagian tingkatan kesadaran di atas, dapat dilihat bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Tentunya seseorang tidak mampu langsung untuk mencapai kesadaran yang tertinggi, tetapi melalui tahapan-tahapan yang harus dilalui. Karena, belajar merupakan proses perubahan kesadaran dari hal yang terendah hingga yang di atasnya. Sehingga tahapan terakhir atau tahapan tertinggi menjadi tujuan utama untuk mencapai kesadaran.
Perbedaan guru dan murid di dalam proses belajar, seolah-olah guru merupakan sumber pengetahuan utama, sedangkan peran murid merupakan menjadi obyek yang tidak tahu apa-apa. Tetapi peran guru dan murid di dalam proses belajar tersebut tidak seperti itu melainkan sama, sehingga tidak ada sikap guru yang menempatkan murid sebagai obyek yang menerima pelajaran saja dan guru sebagai pengajar. Jadi, di dalam proses belajar guru dan murid sama-sama menjadi subyek yang belajar dan memecahkan masalah bersama.
Materi yang digunakan di dalam proses belajar tersebut yaitu permasalahan yang ada di dalam kehidupan sehari-hari yang diangkat menjadi topik untuk dialog. Permasalahan tersebut dipecahkan bersama-sama antara guru dengan murid untuk mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh nara didik. Misalnya, permasalahan yang dihadapi oleh siswa tunanetra ketika bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat. Kemudian permasalahan tersebut didiskusikan bersama-sama dengan cara, pertama-tama yaitu mencari penyebab munculnya permasalahan tersebut. Setelah itu, guru memberi penjelasan kepada nara didik tentang dampak yang akan dirasakan jika permasalahan ini tidak segera diselasaikan. Akhirnya dengan mengetahui apa penyebabnya, apa yang dibutuhkan oleh penyandang tunanetra dan apa yang dinginkan oleh masyarakat non-disabel; nara didik akan sadar keterbatasanya.
Metode tersebut jika diaplikasikan dengan pendidikan Agama Kristen nampaknya cukup tepat. Karena, di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen materinya membahas tentang kehidupan sehari-hari dan pembelajaranya juga dapat menggunakan dengan cara diskusi. Oleh karena itu, pendidikan Agama Kristen dapat menumbuhkan kesadaran akan realitas yang dihadapi oleh setiap manusia. Selain itu, pendidikan Agama Kristen dapat memotivasi seseorang yang lemah, putus asa, dan tidak mempunyai pengharapan. Sehingga dengan permasalahan yang dihadapi oleh para penyandang tunanetra tersebut, dapat terpecahkan dengan pendidikan Agama Kristen.
Pelaksanaan pendidikan Agama Kristen dapat dilaksanakan di sekolahan maupun di gereja. Hal itu tidak jauh berbeda dengan pendidikan di dalam sekolah-sekolah umum. Letak perbedaanya hanya penyampaian materi, jika di gereja lebih ke metode ceramah, sebab dalam gereja pendekatanya lebih “indoktrinasi”, karena lebih mendapat tekanan yang dominan. Pengajaran di sekolah minggu dan katekisasi dan juga dalam kebaktian umum, peserta didik di dalam kebaktian diisi dengan sejumlah doktrin yang Alkitabiah. Meskipun metode diskusi di gereja digunakan, tetapi tidak banyak seperti di sekolahan. Sedangkan di sekolahan setiap penyampaian materi akan disertai diskusi. Sehingga di dalam pengajaran di sekolahan akan lebih mendapakan pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh nara didik.
C. Simpulan.
Dengan demikian, penyandang tunanetra dapat mengetasi permasalahanya dengan pendidikan Agama Kristen. Karena, pendidikan Agama Kristen merupakan suatu pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendidikan Agama Kristen dapat menumbuhkan kesadaran akan realitas yang dihadapi oleh penyandang tunanetra. Dengan tumbuhnya kesadaran akan realitas yang dihadapi oleh penyandang tunanetra, sehingga penyandang tunanetra dapat meningkatkan kualitas hidup di tengah-tengah masyarakat non-disabel.
Daftar Pustaka.
Freire, Paulo. (2001). Pedagogi Pengharapan. Yogyakarta: Kanisius.
Immanuel, Ryo. (2011). Pengertian dan Tujuan Pendidikan Agama Kristen. Dambil dari http://choyho.blogspot.com/2011/03/pengertian-dan-tujuan-pendidikan-agama.html diunduh tanggal 3 Mei 2012.
Manggeng, Marthen. (Tanpa tahun). Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk.
Manggeng, Marthen. (2005). Pendidikan Yang Membebaskan Menurut Paulo Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia dalam INTIM-Jurnal Teologi Kontekstual Edisi 8. Makasar: STT INTIM.
Sunanto, Juang. (Tanpa tahun). Anak dengan Gangguan Penglihatan.
Tanpa pengarang. (Tanpa Tahun). Pendidikan. Diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan diunduh 3 Juni 2012
Tarsidi, Didi. (1999). Upaya Peningkatan Positivitas Sikap Masyarakat terhadap Tunanetra. Makalah disajikan pada Seminar Pemberdayaan Potensi Tunanetra Tanggal 17 Nopember 1999.
Minggu, 22 Juli 2012
CERITA DI DALAM PERAHU
Ada daerah yang terdapat sebuah benua, benua tersebut yang airnya sangat tenang dan tepat untuk tempat periwisata.
Dikemudian hari pengunjung benua tersebut bertambah banyak, karena di benua tersebut terdapat pemandangan yang sangat indah dan ada penyewaan perahu yang dapat digunakan untuk berputar-putar mengililingi benua tersebut.
Disuatu ketika ada sekolompok pemuda yang mengunjungi benua tersebut akan mengadakan diskusi bersama-sama di tempat tersebut. Akhirnya sekolompok tersebut sepakat akan menyewa perahu untuk mengadakan diskusi di tengah-tengah benua itu.
Diskusi tersebut berjudul: Memaknai arti kasih
Diskusi tersebut dimulai dipimpin oleh mederator, kemudian moderator tersebut memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada anggota diskusi tersebut, pertanyaan adalah apa makna kasih? semua diminta untuk mengeluarkan pendapat. Akhirnya satu persatu mengeluarkan pendapat, pendapat tersebut bermacam-macam, setiap anggota mempunyai landasan sendiri-sendiri. Tetapi ada satu orang yang belum berpendapat, masih dilanjutkan berdiskusi dengan asyik silang pendapat terus menerus.
Tiba-tiba dengan asyiknya persilangan pendapat ada salah satu anggota yang terprosot masuk ke dalam benua tersebut.
Anggota yang lain dengan adanya salah satu anggota yang terprosot hanya diam saja tidak segera ada yang menolong, kebetulan orang tersebut tidak bisa berenang, orang yang ada di dalam perahu tersebut hanya menonton saja. Tiba-tiba ada salah satu orang anggota yang menolong temannya yang terprosot tersebut, yang menolong adalah seorang anggota yang belum berpendapat di dalam diskusi. Akhirnya ditolonglah orang tersebut, setelah menolong temannya yang terprosot, dia berpendapat: teman-teman inilah makna kasih. Jika kita tahu apa arti kasih dan makna kasih kalau tidak nampak di dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sedikit cerita dari saya, semoga kita dapat merenungkan makna tentang kasih dari cerita tersebut. ada kurang dan lebihnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Dikemudian hari pengunjung benua tersebut bertambah banyak, karena di benua tersebut terdapat pemandangan yang sangat indah dan ada penyewaan perahu yang dapat digunakan untuk berputar-putar mengililingi benua tersebut.
Disuatu ketika ada sekolompok pemuda yang mengunjungi benua tersebut akan mengadakan diskusi bersama-sama di tempat tersebut. Akhirnya sekolompok tersebut sepakat akan menyewa perahu untuk mengadakan diskusi di tengah-tengah benua itu.
Diskusi tersebut berjudul: Memaknai arti kasih
Diskusi tersebut dimulai dipimpin oleh mederator, kemudian moderator tersebut memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada anggota diskusi tersebut, pertanyaan adalah apa makna kasih? semua diminta untuk mengeluarkan pendapat. Akhirnya satu persatu mengeluarkan pendapat, pendapat tersebut bermacam-macam, setiap anggota mempunyai landasan sendiri-sendiri. Tetapi ada satu orang yang belum berpendapat, masih dilanjutkan berdiskusi dengan asyik silang pendapat terus menerus.
Tiba-tiba dengan asyiknya persilangan pendapat ada salah satu anggota yang terprosot masuk ke dalam benua tersebut.
Anggota yang lain dengan adanya salah satu anggota yang terprosot hanya diam saja tidak segera ada yang menolong, kebetulan orang tersebut tidak bisa berenang, orang yang ada di dalam perahu tersebut hanya menonton saja. Tiba-tiba ada salah satu orang anggota yang menolong temannya yang terprosot tersebut, yang menolong adalah seorang anggota yang belum berpendapat di dalam diskusi. Akhirnya ditolonglah orang tersebut, setelah menolong temannya yang terprosot, dia berpendapat: teman-teman inilah makna kasih. Jika kita tahu apa arti kasih dan makna kasih kalau tidak nampak di dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sedikit cerita dari saya, semoga kita dapat merenungkan makna tentang kasih dari cerita tersebut. ada kurang dan lebihnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Langganan:
Komentar (Atom)